2 Kunjungan ke Papua yang harus ditunda

Kegagalan dalam seleksi Indonesia Mengajar membuatnya frustasi. Kenyataan ini mengharuskan dia menyusun ulang mimpinya. Akan tetapi, dia tidak tahu harus mulai kapan. Bayangan tentang pengabdian itu belum bisa terhapus. Masih lengket dalam ingatannya.

Dia mencoba membaca surel dari pihak rekruitmen. Memastikan bahwa itu bukan pernyataan penolakan. Isi dari surat ini sangat beda jauh dengan instansi lain. ‘Tidak langsung menuju intinya’, batinnya. Bahkan baru kali ini dia menemukan surat penolakan yang begitu panjang. Dia masih mengira itu bukan pemberitahuan bahwa dia gagal seleksi tahap II.

Harapan untuk berkunjung ke tanah Papua bisa teramini jika lolos penjaringan tersebut. Dia akan menjadi seorang pengajar, bukan guru. Menulis di papan tulis, menjelaskan kerumitan dunia. Dia juga sudah membayangkan rasa sagu. Hawa dingin pegunungan di Kabupaten Puncak.

Kini skenario itu sudah tertutup oleh sebuh surel yang menyakitkan.

Sebelum melayangkan lamaran ke lembaga ini, dia pernah mencobanya di institusi kampus elit. Dia lolos di tahap I, kemudian berhak menuju tahap berikutnya. Sayang, hari bahagia tidak berani dia lewatkan. Proses rekruitmen tahap II jatuh di hari yang sama dengan upacara toga. Dia menyerah, lebih memilih untuk mengikuti pesta kelulusan daripada kesempatan itu.

IMG_1223

Dia mencoba menerka mengapa selalu gagal untuk menjadi seorang pengajar. Apakah Papua bukan tempat yang sesuai untuk dirinya? Pertanyaan ini datang ketika temannya merasa kaget dengan keputusan untuk pergi ke Papua. Dia dianggap tidak akan bertahan dengan kontrak selama 2 tahun.

“Kalau ada konflik gimana?” Kalimat tersebut muncul di BBM seperti serangan yang harus ditangkis.

“Puncak aman kok, gue udah googling,” Dia mencoba menyakinkan temannya. Sebelum diprotes dia juga sudah siap hidup tanpa sinyal.

Kini, di meja kantornya dia mengenang. Serpihan kegagalan tentang Papua muncul saat dia sedang menulis transkrip wawancara dengan komunitas #UntukPapua. Dia mencoba menganggap bahwa kata-kata dari narasumbernya datar. Dia hanya ingin masa lalunya sudah tersimpan rapi di folder yang terkunci.

Getaran suara dari sang pria, informan utama menyentuh emosinya.

“Kami kaget, kami belum siap-siap untuk ngajar, tapi ada seorang anak yang sudah rapi dan menggendong tasnya,” ungkapnya saat mendirikan rumah belajar selama dua bulan di Papua.

Dia mengalihkan kata-kata narasumber dengan membuka beberapa lampiran di surel. Ada beberapa video yang diterima dari narasumber yang sama. Dia mengunggah satu file video secara acak. Dia memutar potongan gambar bergerak tersebut, kamudian terlihat seorang wanita yang sedang menggambar di papan tulis. Video ini jelas amatiran. Gambar yang bergoyang-goyang memperlihatkan barisan anak kecil dengan rambut keriting menirukan wanita berambut panjang tersebut. Mereka sangat antusias dengan seragam putih merahnya.

Dia dikagetkan dengan editor barunya, “Ar, mana ini liputan yang kemarin?”

Terburu-buru dia menekan tombol pause, “Lagi ditranskrip Mas, tiga puluh menit lagi ya?” tawarnya. Editor berkacamata ini menjawab ‘ok’ tanpa komentar apapun. Dia kembali menjetikkan jarinya untuk menyelesaikan tugasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s