Selamat Jalan Dosen Pemaaf, Pak Asih!

Dosen berkepala gundul ini hanya duduk terdiam di depan kelas. Tidak banyak bicara dan berekspresi datar. Bapak ini hanya sesekali tertawa untuk topik yang nyentrik dari mahasiswanya. Tidak seperti kebanyakan dosen sastra yang lebih luwes. Bapak yang sering merokok disela-sela mengajarnya ini cenderung kaku. Kabarnya dia juga belum beristri.

Sudah setahun yang lalu dia diajar oleh bapak ini. Waktu itu dalam kelas writing. Keberangkatannya ke luar negeri, membuatnya tidak bisa lagi bertemu dalam kelas selanjutnya.

“Minta doanya kawan, Pak Asih, dosen asal UNY yang sedang studi di Australia terkena penyakit otak. Sekarang beliau sedang dirawat di Sardjito”

Itulah status yang dia baca di Facebook. Nama dosen itu begitu akrab di ingatannya. Di matanya dosen ini tidak pendendam dengan kesalahan mahasiswa.

Di kelas yang berada di lantai dua ini, dia dan seorang temannya sedang berdiskusi hingga sampai ribut. Sudah jam semblian lewat tiga puluh menit. Kelas writing juga belum dimulai. Ini merupakan kesempatan buat dia untuk ngobrol lebih panjang dengan temannya. Dia bahkan tidak sadar sang dosen sudah duduk di tempatnya.

Dia mulai aneh ketika temannya mulai tenang kemudian hening. Dia sendiri yang masih berkomentar. Ketika menengok ke depan, dia baru berhenti. Dia pura-pura membuka handbook untuk menutupi kesalahannya.

“Ya udah, hari ini tidak ada kelas. Kalian sepertinya belum siap,” ujar Pak Asih kemudian langsung turun tangga menuju ruang dosen. Dia merasa bersalah dan tidak tahu harus bertanggung jawab seperti apa. Setelah jeda agak lama, dia dan seorang temannya menuju mejanya Pak Asih. Beruntung beliau masih berada disitu.

“Saya minta maaf Pak atas kejadian tadi di kelas,” semua dosen di ruangan tersebut berakting seperti penonton yang sedang menunjukkan satu adegan dalam Shakespeare. Permintaan maaf level standar ini harus diucapkan demi keberlangsungan kelas. Dia menambahkan, “Saya juga tidak akan mengulanginya lagi Pak.”

Sang dosen tidak menatap wajahnya. Dia hanya berkutat dengan beberapa catatan di bukunya. Sambil merapikan buku-bukunya, “Ya udah. Tidak masalah Mas.” Jawabannya membuatnya lega. Dia hanya bisa berterima kasih dan meninggalkan ruangan dingin itu. Sepertinya dia sudah lolos dari adegan panas.

Minggu depannya, kelas berjalan seperti biasa hingga semester berakhir. Semuanya tenang demi image kelas yang lebih baik meski sudah tercoreng. Pak Asih juga tidak menyindir lagi tentang kasus kekanak-kanakan yang telah berlalu. Bahkan dia juga mendapatkan B+ untuk mata kuliah ini. Beruntung banget, padahal dia sudah melakukan kesalahan.

“Pak Asih akan dimakamkan hari ini jam 14.00 WIB…” kalimat itulah yang muncul di layar Whatsappnya. Pesan itu dikirim secara pribadi oleh pembimbing skripsinya. Dosen yang sangat andil untuk menjadikannya seorang sarjana.

Selamat jalan Pak Asih! Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik bagi Anda. Jiwa pemaaf dari Bapak semoga bisa mengiri Bapak menapaki surga. Lewat ilmu yang sudah disebarkan, semoga Bapak mendapatkan ampunan dari Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s