Reporter Kebon Jeruk

Dia berjalan dengan kepala tegak. Seolah pandangannya ditujukan kepada seorang cameraman yang berada di depannya. Kelakuan ini sering dipraktikan ketika dia berjalan di trotoar. Lewat berita yang ada di Twitter smartphone-nya, dia membuka mulut untuk melaporkan peristiwa tersebut. Dia berlagak seperti reporter Kebon Jeruk.

“Hingga saat ini partai Golkar terpecah dalam dua kubu.”

Suaranya terdengar lemah dan tidak percaya diri. Seringkali ditengah-tengah perkataannya, napasnya ngos-ngosan. Seakan dia memberikan tanda “take lagi dong” kepada cameraman bayangan. Sebenarnya dia juga sadar bahwa dia tidak membawa senjatanya, mic dan wear-pack kantor Kebon Jeruk.

Pekerjaan ini berasa istimewa baginya. Kacamata seorang jurnalis itulah yang sangat ingin dia kenakan, segera. Lewat profesi ini, dia berharap bisa mencicipi makanan dimanapun, kecuali nasi dan daging kambing. Dia juga ingin menjejakkan kakinya di luar negeri. Tapi untuk meliput konflik atau perang di Afganistan, dia masih pikir-pikir. Ditambah lagi anak junior tidak mungkin dikirim untuk peristiwa luar negeri.

Satu hal yang nyata adalah dia belum menjadi bagian dari anak Kebon Jeruk. Hal ini makin pahit, ketika melihat keceriaan JDP (Journalist Development Program) batch 11 yang sudah berumur 1 tahun, Januari 2015 kemarin. Dia memang sengaja mengikuti update crew batch 11 di Instagram. Dia tahu kemana si X liputan, kemudian bahas apa saja. Selain itu, dia juga mencocokkan behind the scene di akun tersebut dengan apa yang ditayangkan di televisi.

Bayangan para anchor yang dilihat saat masih Junior High masih tajam dalam otaknya. Dia mempelajari bagaimana perihal bertanya dilakukan oleh seorang jurnalis. Dia bahkan sering bersorak jika para narasumber dibuat terjebak dengan pertanyaan. Bayangan-bayangan itu mengepul menjadi sebuah mimpi dari kecil.

Bukankah seperti itulah mimpi? Dia pernah ditolak oleh Kebon Jeruk yang kuning dan paling tertua. Semua proses seleksi itu masih membekas dan tidak bisa begitu dilupakan. Dia tetap berusaha untuk mencoba memasuki dunia ini ke perusahaan lain. Hingga kini, dia belum masuk juga. Tapi masih ada kata segera bukan?

*tulisan ini ditulis ketika editor Brilio sedang ‘mengejar’ reporternya untuk mengirimkan berita.*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s