Sentilan Kepedulian

Dunia selalu butuh kepedulian. Banyak orang yang sudah menujukkan melalui aksi nyata mereka. Entah menggunakan campaign di media sosial atau menyuarakan suara-suara kepedulian mereka di jalanan. Bahkan, pemerintah seringkali kalah handal dari kaum yang peduli sekaligus penebar kepedulian.

Meski berangkat dari  niat mulia. Kaum ini tidak bebas dari rintangan. Anehnya orang yang dipedulikan sering melempar kepedulian mereka. Ada juga sebagian yang menghadang orang-orang ini.

Dia sudah bertemu dengan orang-orang seperti ini. Setidaknya sekali. Dia hanya mendengar cerita para pengajar di Sekolah Gajah Wong Yogyakarta. Sekolah ini sebenarnya kurang layak jika didefinisikan sebagai sekolah. Atau mungkin, sekolah memang tidak perlu didefinisikan. Yang terpenting adalah adanya proses transfer ilmu. Dua elemen yang penting lainnya adalah adanya guru dan siswa. Ambil saja definisi seperti itu.

Pengajar itu seorang perempuan. Berasal dari universitas yang berbeda darinya. Dia sering mengajar di Sekolah Gajah Wong. Akan tetapi minat belajar dari siswanya sangat rendah. Saya melihat dengan kesaksian tersendiri. Waktu itu sedang mengadakan acara bhakti sosial di bulan Ramadan.

Untuk menarik perhatian dari anak-anak, panitia harus memamerkan iming-iming makanan. Lewat pengeras suara di salah satu masjid dekat sekolah Gajah Wong, panitia berusaha beberapa kali membujuk anak-anak. Akan tetapi, tidak ada 30 orang yang terkumpul. Mau tidak mau, acara harus dilanjutkan. Dia tidak akan menceritakan tingkah laku anak-anak dari sini. Hal ini bisa menambah prasangka bahwa anak-anak ini kurang menghargai kepedulian.

Sentilan tentang kepedulian mengingatkan dia akan salah satu lagu berjudul Take Your Time by Sam Hunt. Banyak orang yang tidak ingin peduli lagi karena takut akan disangka mencampuri urusan orang lain. Atau lebih tepatnya dikatakan sebagai orang kurang kerjaan (dalam konteks lingkungannya). Dalam video tersebut, sang penyanyi sengaja membiarkan keluarga yang sering berantem tersebut. Dia sebenarnya sangat peduli, hal ini dijelaskan dari lirik awal dalam lagu tersebut. Tapi, dia harus menunda aksinya pada detik-detik terakhir. Tapi bagaimana kalau itu merupakan permasalahan besar? Banyak orang yang peduli tapi hanya hatinya saja karena sudut pandang antara penebar kepedulian dan komunitas sosial yang berbeda.

Seperti itulah yang dia interpretasikan tentang sentilan kepedulian. Seperti dirinya. Banyak yang dia pedulikan, akan tetapi dia belum berani bangkit untuk menyulutkan kepeduliannya. Apakah hal ini juga disebut sebagai peduli?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s