Berburu tiket Agnez Mo dengan bumbu nostalgia

Dia mengagumi sosok publik figur ini karena kepribadiannya. Sosok perempuan yang dia idolakan itu bernama Agnez Mo. Gaya hidup yang sehat dan semangat pantang menyerah merupakan alasan terkuat dia mengagumi sosok ini. Dia tidak peduli dengan kehidupan percintaan dari artis ini seperti orang lain. Yang paling mempengaruhi adalah sisi go international dari Agnez Mo. Itulah yang menjadikan dia bermimpi untuk pergi ke London dan New York.

Sebuah kabar gembira datang dari teman satu gengnya, Munez. Melalui BBM, dia memberikan kabar bahwa Agnez Mo akan konser di Jogja untuk sebuah campaign produk di club. Agak sempat bingung untuk merespons karena alasan pekerjaan. Akhirnya dia memutuskan untuk mengiyakan ajakan nonton artis internasional ini.

Semangat yang mendorong untuk membeli tiket konser ini adalah stasiun TV yang pernah menolaknya, The East. Pada tanggal 24 Mei 2015, The East mengundang Agenz Mo dan beberapa artis internasinal untuk merayakan ulangtahunnya. Dia sempat ingin ikut kuis agar bisa nonton di BSD. Tapi niatan ini dia urungkan karena rasa sakit hati yang belum padam.

Di sisi lain, kuis tersebut lebih diprioritaskan bagi mereka yang tinggal di daerah Jakarta. Bahkan, salah satu tim kreatif dari The East juga bilang bahwa banyak sekali yang mengantri untuk mendapatkan tiket tersebut. Merupakan alasan yang tepat untuk membeli tiket di Jogja.

Dia dan Munez akhirnya sepakat untuk membeli tiket presale yang jatuhnya lebih murah. Mereka pergi ke kantornya jam delapan pagi. Ternyata officenya belum buka. Akhirnya mereka memburu sarapan karena masih pagi. Inilah perjalanan nostalgia dimulai. Nostalgia saat berkuliah.

Pagi itu, mereka sengaja sarapan soto di dekat kampus. Bangkunya masih sama. Bahkan gorengan dan kerupuknya juga masih sama. Mereka ngobrol soal pekerjaan beserta drama. Ya, drama ternyata tidak bisa jauh dari kehidupan profesional. Karena ada keperluan, Munez harus kembali bekerja, sementara dia berkunjung ke SC (tempat radionya dulu). Pemburuan tiket dilanjutkan jam 12.

Kembali lagi ke kantor, tujuan utama mereka adalah lantai tiga. Tempat penjualan tiket tersebut. Memang agak aneh susunan gedungnya. Di lantai dua terdapat sebuah sekolah untuk anak kecil. Sedangkan di lantai tiga berisi lapangan futsal dan juga kantor sebuah klub malam, club yang menjadi tempat konser Agnez Mo.

Aura para pekerja klub malam memang berbeda. Tanpa basa-basi, langsung ambil dua tiket. Kemudian turun lagi untuk mencari makan siang. Tujuan awalnya adalah ramen kaki lima yang dekat dengan Galeria tapi tutup. Akhirnya harus puter menuju daerah Samirono untuk mencari kedai mie ayam. Nostalgia ini kembali lagi.

Setiap jalanan yang dilewati. Setiap panasnya matahari. Gaya bercerita yang ditunjukkan. Bahkan tempat makanan. Semuanya mengarah ke nostalgia saat kuliah.

Semoga tanggal 28 Mei 2015 merupakan catatan yang tidak kalah seru dengan zaman kuliah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s