Emergency Picnic Part II (end)

Bakso merupakan penawar drama bagi mereka berempat. Tidak mudah untuk menemukan kedai bakso yang begitu enak meski micin yang begitu banyak. Bahkan dia harus makan dua mangkok demi kata ‘kenyang’.

Solo waktu itu memang panas sekali. Setelah naik bus Solo Batik Trans, mereka lanjut ke sebuah pusat kota dekat dengan Bank Indonesia. Kemudian, mereka tertarik dengan sebuah benteng yang sudah menjadi kandang kambing. Bahkan gerbangnya saja tertutup. Mereka hanya bisa selfie di depan gerbang benteng tersebut.

Cuaca panas membuat lelah dan sensi dari masing-masing anggota. Agak lama untuk membuat keputusan apakah mau pergi ke museum ke keraton Solo atau tidak. Untuk mencairkan suasana, akhirnya makan es campur. Keadaan tambah parah karena pengamen yang datang silih berganti. Akhirnya, mereka memutuskan untuk pergi ke keraton Solo dengan naik becak.

Edisi Emergency Picnic..

A post shared by Artiyono Sabar (@artiyonosabar) on

Butuh waktu lama untuk membuat keputusan ini. Pertama adalah menghitung jarak dan kedua adalah menawar ongkos becak. Setelah kelelahan berdebat, akhirnya opsi naik becak diambil. Mereka berkeliling museum yang lumayan ngeri (dibandingkan dengan museum keraton Yogyakarta) dengan suara pedal dari sang tukang becak. Bahkan mereka juga menyepatkan trip ke sebuah kampung batik dan singgah di Masjid Agung.

Drama mulai meninggi lagi ketika tukang becak melanggar kesepakatan soal ongkos. Mau tidak mau mereka harus mengalah. Demi keadaan tenang, makan adalah jawabannya. Awalanya, mereka memilih tempat makan yang berada di pusat grosis. Alasannya adalah untuk menemukan udara yang sejuk. Hasilnya adalah zonk. Mereka berlari keluar dari pusat grosir tersebut dan alhasil, bakso merupakan obatnya.

Tidak perlu menunggu lama. Bakso dengan kuah panas sudah di depan mata. Hanya perlu beberapa menit untuk menyantapnya. Semua drama langsung lenyap. Bahkan alam menyabutnya dengan hujan.

Perjalanan selanjutnya adalah ke Stasiun Balapan dengan taxi. Dalam perjalanan pulang, banyak cerita dan drama kantor yang menjadi pembunuh waktu. Dan akhirnya weekend menyambut kembali kepada rutinitas pekerjaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s