What? Okay-ness?

Dia terlalu muak dengan kebiasaan yang ada dalam komunitas sosialnya. Memang dia sudah menjadi bagian dari kelompok tersebut, namun tidak untuk urusan ideologi. Dia merasa salah jalur dalam memahaminya. Jika dia seorang zebra, dia sudah tidak lagi memiliki tubuh dengan belang-belang. Warna putih dan hitam itu akan pudar kemudian berganti dengan polkadot yang warna-warni.

Mulai terbayangkan jika ada polkadot dalam kawanan belang? Pasti sudah menjadi cibiran tersendiri. Bahkan ada yang mengetawakan secara kasar dihadapannya. Oh it is great! Padahal pangkal dari semua itu hanyalah masalah sepele. Seperti makan misalnya. Banyak orang yang bertanya-tanya, kok makannya beda?

Whats wrong? Dia seperti mempunyai tuntutan untuk menjelaskan apa yang dia lakukan dan ingin lakukan. It sucks!

He should act based on their okay-ness things.

Apalagi jika maslaah itu berujung pada penentuan benar atau salah. Semua yang dia lakukan sepertinya salah semua. Untuk mencoba hal baru saja bisa dijadikan bahan tertawaan. Ya, mungkin mereka memang kurang bahagia karena terlalu monoton.

Do they want to colonize him? Only wish! 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s