Perubahan itu nyata dan ada

Banyak orang yang tidak percaya adanya transformasi dari seorang preman menjadi orang alim. Padahal media sudah banyak yang memberitakannya. Mungkin rasa percaya itu kurang karena tidak bertemu langsung dengan pelakunya. Dan dia termasuk dari banyak orang tersebut meski akhirnya berubah pada suatu siang di awal bulan Agustus 2015.

Dia bersama temannya menemui salah satu narasumber untuk dijadikan sebagai bahan liputan pada siang itu. Dia hanya diajak, tidak tahu perkara profil dan juga karakter dari narasumber. Temannya hanya menjelaskan bahwa dia akan bertemu dengan Merkid’s, sebuah komunitas di Jogja. Dia berpikir bahwa komunitas ini ditujukan untuk anak-anak karena adanya kata kids.

IMG_3167

Dia salah besar. Ternyata komunitas ini berkaitan dengan premanisme dan juga masalah anak jalanan. Temannya mulai mempersiapkan perekam suaranya dengan berbagai daftar pertanyaan. Dia hanya mendokumentasikannya. Selain itu, dia hanya mengambil video singkat dari wawancara tersebut.

Dia menangkap, bahwa Merkid’s merupakan kumpulan orang yang suka berantem dulunya. Tapi kini sudah menjadi komunitas yang peduli dengan isu sosial seperti vandalisme, bhakti sosial, dan lainnya. Narasumber tidak menceritakan lebih lanjut persoalan perubahan geng Merkid’s.

Dia hanya menangkap bahwa sang ketua Markid’s ingin mengakhiri masa gelapnya. Dia pernah merasakah keluar masuk penjara. Dia pernah merasakan bagaimana berantem di jalanan sambil mabuk dan kebiasaan buruk lainnya. Dia sering menegaskan bahwa cukup dia saja yang mengalami semua hal buruk itu. Dan rantai keburukan itu harus berakhir di masanya.

IMG_3183

Perbuatan suka berantem bukan tiada sebab. Broken home merupakan penyebab dia memilih keluar menuju jalanan. Menunjukkan eksistensi dengan menguasi selayaknya hidup di hutan. Berantem, berantem, dan melakukan aktivitas premanisme dilakukan untuk menunjukkan kepada dunia tentang siapa dia sebenarnya.

Rasa capai dan juga bosan menjadi preman menunjukkan dia ke babak yang baru. Dia mengubah image preman menjadi orang yang juga bisa berperan dalam isu sosial. Dia berhasil merangkul anggotanya untuk mendukung program tersebut. Meskipun bertato, komunitas ini ternyata sangat lembut saat melakukan bhakti sosial di panti asuhan.

Kisah ini sebenarnya sama dengan novel yang baru saja dia baca. Judulnya adalah Tak Sempurna yang menceritakan buruknya budaya tawuran anak SMA. Novel tersebut menceritakan proses taubatnya seseorang yang suka tawuran setelah terluka (kakinya diamputasi).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s