Refleksi Satu Semester Bekerja

Sejak sepeninggalan kakeknya, hidupnya memang penuh kejutan. Mau tidak mau, dia harus belajar sendiri tanpa arahan darinya. Apalagi persoalan dunia yang dia hadapi sekarang, dunia kerja. Dunia ini resmi digeluti sejak pertengahan Februari 2015. Lebih tepatnya sejak dia ditolak berbagai perusahaan korporet impiannya.

Dia lebih suka menyebut kantornya sebagai startup company. Meskipun secara badan hukum, kantornya dipayungi oleh jaringan media online terbesar di negeri ini, dalam kata lain corporate company. Karena project baru dan kantornya yang jauh dari pusatnya, suasananya berubah menjadi sebuah startup.

Banyak alasan dia berpendapat demikian dengan diikuti bukti yang semakin menguat setiap harinya.

Persoalan project baru

Bersama kru lainnya, dia memang menjadi pioneer untuk membuat media online dengan generasi milenial sebagai targetnya. Mulai dari nama, konsep, dan juga sistem produksi berita, semuanya melakukan brain storming hingga akhirnya tercapai sebuah keputusan.

Tidak mudah mencapai kesepakatan, hal ini bukan karena faktor internal atau ide yang bermasalah. Akan tetapi respons dari sang induk perusahaan. Ketika timnya sudah mencapai mufakat, perusahaan induk seringkali menolaknya. Yang menjadi tidak logis adalah penolakan tersebut tidak disertai dengan penjelasan. Kemudian proses brain storming diulangi lagi kemudian berputar-putar hingga berbulan-bulan hingga induk perusahaan memberikan lampu hijau.

Dia mempunyai pikiran bahwa hal ini tidak efektif. Selain memikirkan ‘otak’ dari projectnya, dia juga harus memproduksi berita. Dalam kasus lain juga sering terjadi bahwa kru baru sering dilibatkan dalam pengambilan keputusan selain ranah liputan atau pemberitaan. Meskipun akhirnya pendapat tersebut ditolak juga. Di sisi inilah, dia dan timnya kurang mendapatkan apresiasi. Jika memang seperti ini, seharusnya perusahaan induk tidak perlu melibatkan timnya.

Persoalan management konflik

Dunia tanpa konflik memang mustahil terjadi perkembangan. Anehnya, konflik yang sering bertebaran di tempat kerjanya berasal dari persoalan pribadi. Kemudian daftar kegelisahan itu dibawa ke kantor.

Yang menjadi perhatiannya adalah tidak ada sinkronisasi yang baik antara visi yang ditetapkan oleh pimpinannya terhadap timnya. Memang ada gap yang besar hingga terjadi persoalan tersebut. Terutama dari orang yang menjabat sebagai managing officer. Gap itulah yang membuat tim dan managing officer tidak senada dalam menjalankan visinya.

Pertama adalah terkait senioritas. Sepertinya, officer ini belum move on dari kantor lamanya (karena media ini target audiensnya berbeda). Dia berambisi bahwa tim baru harus merasakan apa yang dia rasakan saat masuk perusahaan tersebut. Padahal hal ini sangat jauh dengan lingkungan yang dikembangkan oleh pimpinannya.

Kedua adalah persoalan komunikasi. Managing officer selalu menginginkan face to face jika dia melakukan kesalahan. Di sisi lain, jika ada tim baru yang melakukan sebuah kesalahan, sering dibahas di rapat umum dengan mengagungkan pengalamannya. Meski penyampainnya sering tidak tepat.

Ketiga adalah soal kritik dan saran. Meskipun sudah disampaikan sebuah kritik untuk mengatasi sebuah permasalahan, tetap saja tidak dihiraukan. Hal inilah yang membuat kru lelah dan lebih memilih membiarkan masalah tersebut.

Management yang tidak stabil

Selain adanya salah komunikasi dari managing officer, management kantor juga sering berantakan. Hal ini mulai dari jadwal masuk kerja hingga persoalan pembagian jobs atau divisi. Seringkali pembagian jadwal ditumangi dengan alasan-alasan pribadi.

Di sisi lain, ada pula bagian administrator yang juga berlagak menjadi senior. Terkadang sering mengambil keputusan sendiri tanpa rapat dan koordinasi terlebih dahulu. Selain itu, bertindak sendiri dengan alasan yang tidak begitu jelas.

Yang paling menarik adalah sering bergantinya tujuan dari perusahaan tersendiri. Dalam hitungan bulan, project ini berubah. Tidak hanya itu saja, penggantian CEO juga pernah terjadi untuk mencapai target yang baru. Hal inilah yang membuat project kehilangan identitas.

Belum lagi terkait koordinasi dengan jaringan lainnya. Seringkali project ini tidak diakui oleh jaringan lain karena posisinya yang masih bayi. Bahkan sering dianggap sebelah mata oleh jaringan lain. Bahkan banyak acara campaign yang tidak jelas koordinasinya dengan project baru ini.

Semua permasalahan itu ditulis sebagai usaha bahwa dirinya ingin menjadi seorang yang memang benar-benar paham dengan apa yang digelutinya. Selain itu, identifikasi masalah ini merupakan pembelajaran baru  persoalan bisnis media.

*Tulisan ini ditulis sebagai bentuk refleksi setelah satu semester bekerja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s