Bahasa Sunda dan Bandungnya

Tanah Sunda, itulah tujuan berikutnya setelah meeting di Galuh, Jakarta Selatan. Karena berangkat dengan mobil travel, dia dan abang Go-Jek harus berjuang demi mengejar jam keberangkatan. Tuhan menjawab doanya, dia tidak ketinggalan bus.

Dalam perjalanannya, dia tidak tahu jalan apa yang dilewatinya. Otaknya hanya mengerti bahwa berkilo-kilo jalan tol yang dilewatinya. Sekitar pukul 10.00 malam, dia akhirnya tiba di daerah Surapati.

IMG_6411

Yang membuatnya bingung dengan Bumi Parahyangan itu adalah bahasanya. Meski orang lokal berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia, tetap saja intonasinya cepat. Terlebih lagi logat Sundanya masih kental.

Meski agak susah untuk dipahami, dia tetap menikmati gaya berbicara mereka. Mulai dari pegawai hostel, supir angkot, tukang ojek, dan penjual alunan suaranya sama. Seakan-akan dia menikmati melodi baru dalam kehidupannya.

Dia menghabiskan waktu di Tanah Parahyangan selama dua hari (24 -25 Oktober). Dia hanya berkeliling sekitar Kota Bandung saja. Dia kebingungan karena jalannya yang muter-muter dan itu-itu saja. Terlebih lagi cuaca yang panas juga.

Beruntung dia bisa menyaksikan Kang Kamil saat berpidato di Masjid Kota Bandung. Seakan tidak percaya bahwa pejabat yang sering ngelucu di akun Instagramnya itu memberikan nuansa gagah dan tegas dalam nada bicaranya.

IMG_6445

Karena bingung dengan apa yang ingin dilakukan, dia sengaja pergi ke bioskop daerah Braga di malam Minggunya. Lumayanlah untuk mengusir penat. Lagi-lagi, dia terhibur dengan orang-orang dengan logat Bahasa Sundanya.

Yang membuat perjalanan di Bandung tidak terlupakan adalah Pasukan Bobotoh Persib. Mulai dari pagi hingga sore, mereka melakukan arak-arakan untuk merayakan kemenangannya mendapatkan Piala Presiden.

IMG_6600

Sayang sekali, dia tidak bisa masuk ke dalam Gedung Sate yang ikonik. Memang saat itu Bandung sedang ulang tahun, jadinya banyak pejabat yang sedang rapat dan mengadakan pertemuan. Padahal, dia harus berpanas-panasan untuk masuk ke gedung tersebut.

IMG_6617

Belum lagi, dia hanya sempat mencicipi mie kocok. Dia gagal mendapatkan seblak khas Bandung. Itulah yang selalu dia idam-idamkan. Beruntung saja, dia bisa menguyah cimol saat menuju alun-alun Kota Bandung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s