Sambutan awan Jakarta

“Kok panasnya biasa saja,” ungkapnya dalam hati saat menuju pintu exit Pasar Senen.

23 Oktober 2015 merupakan kali pertamanya dia ke Jakarta (setelah berumur 15 tahun), sendirian pula. Tujuannya adalah untuk menghadiri meeting sebuah campaign. Dia mulai mengamati jalanan Jakarta saat kereta melewati daerah Jakarta Timur.

Setelah turun dari kereta, dia menikmati segitiga Jakarta dengan abang Go-Jek. Beruntung dia melewati jalanan itu sebelum rush hour.  Dia tidak merasakan kemacetan yang cukup parah, hanya padat saja. Akan tetapi yang menjadi perhatiannya adalah suhu atau seberapa panasnya Jakarta.

Dia tidak merasakan panas yang menyengat. Memang badannya berkeringat karena tas yang dia gendong. Tetapi, dia benar-benar tidak tersengat dengan matahari Jakarta.

Sambutan awan Jakarta terkuat saat dia mendengarkan Lantai Delapan. “Awan Jakarta hari ini memang beda, Hardrockers,” tutur salah satu penyiar. Ternyata perasaannya memang benar. Kondisi awan yang tidak terlalu pana disebabkan karena cuaca yang tidak menentu saat ini. Itulah penjelasan yang dia dapatkan dari penyiar Drive & Jive yang mengutip keterangan dari BMKG.

Setelah mendengarkan radio, dia langsung mandi dan siap-siap untuk meeting.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s