Tentang Kesendirian di Bandung

“Dari mana Mas,” tanya petugas Museum KAA.

“Dari Jogja,” balasnya dengan datar.

“Berapa orang?” tegasnya. Entah basa-basi atau apa, pertanyaan itu menggelitik dalam hatinya.

“Sendiri aja,” mulutnya mencoba merespons. Dia tidak lagi melihat raut muka petugas. Setelah tanda tangan di buku tamu, dia langsung menuju ke beberapa galeri dalam museum tersebut.

Memang dia ‘sendirian banget’ di Bandung. Dia hanya mengandalkan Google dan GPS jika sedang kebingungan.

Mungkin ini hal pertama kali baginya untuk pergi ke luar kota seorang diri.

“Kamu sama siapa di Bandung?” Ayahnya bertanya melalui telepon.

“Sendiri saja,” jawabnya sambil melihat taman di alun-alun Kota Bandung.

Jujur, nada suara ayahnya berbeda. Lebih tepatnya seperti kaget. Ya mungkin karena dia seorang diri untuk pergi ke Kota Kembang ini.

Dia hanya bersama dengan bayangannya ketika sedang makan ataupun mengunjungi beberapa spot di Bandung. Emang mau gimana lagi? Kenyataannya memang sendiri.

Entah kenapa ada pikiran yang menarik melintas saat berada di Museum KAA, tepatnya di ruang konferensi.

IMG_6552

Entah kenapa ada impian untuk mengadakan wedding di ruangan tersebut. Kursi merah, nuansa sejarah dan juga vintage membuatnya terpesona. Bahkan, bayangan altar dan lain sebagainya tergambar dengan jelas.

Ya, dia membayangkan sendiri tentang wedding planning itu. Di Bandung, sendiri, seperti selfie.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s