Kak Senior, Maafkanlah Juniormu!

Banyak orang kemudian disalahkan karena perubahan yang sedang diusung. Jegal-menjegal selalu menjadi risiko yang kentara dalam urusan perubahan baik soal birokrasi atau motif politik. Setidaknya fenomena itu yang dia amati lewat media yang tidak henti-hentinya memproduksi informasi.

Apa salahnya membuat perubahan dalam sebuah kelompok?

Akan tetapi, kini, dia sendiri yang menghadapinya. Setidaknya, dialah yang akan menjawab pertanyaan itu lewat pengalaman menyelamnya di akuarium kecil yang bernama perusahaan.

Susah memang baginya untuk duduk manis dan menghormati (selalu melakukan) apa kata bosnya. Apalagi budaya ‘susah diatur’ yang sudah mengakar sejak kecil. Wajar, stempel ‘perusak tatanan’ sudah menjadi brandnya saat masih aktif di organisasi kampus.

Balik ke arenanya, sebuah perusahaan yang menjadi tumpuan perutnya saat ini. Di posisi ini, dia benar-benar anak baru. Bahkan dia juga tidak mempunyai background knowledge untuk pekerjaannya. Di tahun-tahun awal, dia berhasil survive, tetapi lambat laut dia merasa bingung dengan apa yang harus diperjuangkan untuk perusahaannya. Dia mencoba menepiskan bahwa hal ini bukan disebabkan karena seringnya ditolak perusahaan impiannya.

Semisal saja, dia mengusulkan untuk menciptakan image/brand serta segmentasi dan style sendiri bagai perusahaannya. Akan tetapi sang atasan malah mencerca dengan data yang tidak ada hubungannya. Dia berpikir, bahwa apakah perusahaan bakal bergerak jika ada pesaing yang begitu melejit? Setidaknya hal itu yang ada di gambarannya selama ini. Jika tidak ada hubungannya dengan pesaing, pasti soal cost yang terlalu tinggi. Dua itu saja bukan yang lain.

Apakah perubahan hanya berlaku benar di saat-saat tertentu? Misalnya saat perusahaan tidak bisa menutup cost untuk projectnya? Atau situasi krisis yang benar-benar membuat perusahaan linglung secara finansial? Jika premis itu benar, kemudian tidak ada jiwa dalam perusahaan itu setiap harinya. Semuanya santai saja.

Meski benar, dia tidak setuju dengan konsep itu. Dia menginginkan perubahan setiap harinya. Mulai dari cara meeting, brainstorming, strategy branding, dan lainnya. Tapi ini bukan perusahaannya, atau bukan ladang investasinya. Big problem? Yes!

Bahkan penggunaan software baru saja sudah menjadi perkara besar. Itulah yang dia hadapi dengan para seniornya. Saat dia menggagas ide baru, semuanya berjuang mati-matian untuk menolaknya. Bahkan alasan yang tidak berbasis data juga dilontarkannya. Aneh bukan?

Terus bagaimana makna pekerjaan jika bukan dari perubahan? Salahnya dia memang bekerja untuk mencari makna bukan uang atau jabatan. Tapi kenyataannya, duduk di kantor tanpa makna hanya membuatnya gelisah dengan kehidupannya. Mungkin ini terdengar tidak profesional memang.

Untuk para seniornya, dengarkanlah beberapa hal berikut ini:

  • Perubahan yang dia maksud adalah bagaimana perusahaan benar-benar dilengkapi dengan jiwa oleh orang-orang di dalamnya. Artinya setiap jiwa tidak akan selalu diam, pasti ada values yang dia usung.
  • Kemudian, apalah arti data yang sering dipaparkan jika sifatnya berlapis-lapis? Artinya perbedaan level karyawan berimbas ke data yang diakses.
  • Lalu, impact apa yang dilakukan oleh organisasi ini? Jawablah dengan tegas karena bisnis bukan soal uang saja.
  • Yang terakhir, maafkanlah dia yang sering membuat ‘kerusuhan’ dengan perubahan-perubahan kecilnya.

Jadi, apakah perubahan itu salah? Bisa jadi salah apalagi jika ide itu diusulkan oleh ikan kecil seperti dirinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s