Untuk kamu yang merasa normal dan baik-baik saja

Untuk kamu yang tidak pernah dibully,

Untuk kamu yang tidak pernah dianggap sensitif,

Untuk kamu yang tidak pernah merasa ‘berbeda’ dengan yang lain,

Untuk kamu yang tidak pernah asing dengan label dari masyarakat,

Sebaiknya kamu tidak perlu melanjutkan tulisan ini.  Alasannya adalah tulisan ini merupakan tentang dirinya yang bisa saja pesannya akan salah jika kamu belum pernah merasakan keempat hal di atas.

Untuk memahami konteks ini, dia bertahun-tahun merasakan kerasnya bully dari tetangganya karena kondisi ekonomi keluarganya. Bahkan cacat fisiknya yang berasal dari lahirpun selalu menjadi panggung bagi mereka yang suka mencela.

Dia memang pura-pura lupa bahwa itu namanya pem-bully-an. Beruntung, anak kelahiran Shio Ayam itu bisa tenggelam dengan buku, radio, dan televisi. Lewat media itu, dia seakan-akan mempunyai dunia sendiri. Akhirnya, dia tidak merasakan lagi menjadi korban. Kedengarannya memang seperti itu.

Akan tetapi jalan  itu ternyata menunjukkan hal yang berbeda, apalagi gaya komunikasinya.  Ketika bertemu dengan orang baru, dia seperti anak kecil yang harus banyak belajar. Bahkan cenderung salah dan tidak ada progres sekuat apapun dia mencoba. Menyakitkan bukan?

Dia selalu kebingungan mengapa orang-orang tiba-tiba marah dengan dia. Bahkan, dia selalu menjadi public enemy di manapun berada. Itulah mengapa dia tidak bisa berteman dengan orang banyak. Dia takut, takut membuat hidup orang lain semakin ribet sebenarnya.

Kini dia tahu, dia memang mempunyai gaya komunikasi yang berbeda. Sebagai gambarannya, orang benci dengannya karena tatapan matanya. Orang benci karena gaya bicaranya yang terlalu to the point. Orang benci karena dia selalu berargumen lebih dari yang lain. Orang sering mengira hal ini untuk mematahkan lawannya. Mungkin hanya dia saja yang bisa memahami dirinya.  Kemudian apa arti komunikasi jika hanya dia yang paham? Hasilnya adalah kesalahan dalam menerima pesan.

Pengalaman itulah yang membuat dia seakan-akan bukan bagian dari manusia lagi. Seolah-olah, dia memang salah sejak lahir. Salah dalam memahami orang lain. Salah karena tidak sesuai dengan aturan orang pada umumnya (orang normal). Bahkan pemikirannyapun  salah.

Kemudian mereka menunjukkan cara mereka sendiri untuk mengoreksi kesalahannya. Hal inilah yang membuatnya semakin terluka.

Proses koreksi itu juga membuatnya bertanya, “lalu, kalau gaya komunikasinya, pemikirannya, dan persepsinya tidak sama dengan mereka, dia tidak berhak bergabung ?”

Kenyataannya boleh, tapi tetap saja dia dicap salah.

Tulisan ini memang kesannya subjektif, setuju? Jika tidak dengan nada subjektif, lalu siapa lagi yang akan menyuarakannya?

Dia biarkan mereka melabeli dirinya sebagai ‘orang aneh, ‘terlalu sensitif, ‘nggak bisa nyantai’, ‘suka emosi’, ‘gampang putus asa’, ‘bukan anak normal’, ‘alay’, ‘implusif’, dan masih banyak lagi.

Dia tidak ingin mengatakan bahwa mereka harus merasakan apa yang dialaminya untuk memahaminya. Pada dasarnya, jika mereka open minded sedikit saja, pasti bakal tahu.

Terus mereka akan protes, “Open minded? Dia saja yang nggak mau!”

Ya, dia tetap salah lagi. Atau dia memang benar-benar patut dibenci? 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s