Buntu di Lereng Merapi

Bermigrasi ke tim video, dia menemukan ombak  baru. Dia dan timnya mendapatkan tugas untuk coverage Kepala Desa Umbulharjo, wanita yang berani menyita kunci backhoe penambang liar di lereng Merapi.

Agak takut sebenarnya menerima tugas yang satu ini. Instingnya sudah memberikan isyarat ada yang tidak beres. Ini bukan tinggi  gunung yang harus ditaklukan, melainkan oknum penambangnya sendiri.

Fokus utama adalah menggali sosok Suyatmi, sang kepala desa. Akan tetapi, negosiasi berlangsung alot. Narasuber selalu mencari cara agar bisa bersembunyi dari sorotan kaera. Crew akhirnya harus menunggu karena tidak ada pilihan lain.

Sembari menunggu narasuber, tim akhirnya meluncur ke lokasi pertambangan. Di sinilah area uji nyali diulai. Setelah parkir di rumah salah satu penambang, tim akhirnya terjun untuk mengambil gambar.

Belum ada sepuluh menit, salah satu crew teriak bahwa tim harus mundur. Ternyata ada seseorang yang membutunti timnya (ibu yang rumahnya dijadikan tempat untuk parkir). Dia sangat panik, sambil lari dia mencoba untuk memberi tahu teman yang lainnya.

Timnya memang berada di atas lokasi pertambangan. Kalau tertangkap bisa bisa berujung petaka. Setelah tersengal-sengal, tim akhirnya bisa keluar meski footage tidak ada yang bagus. Gerimis dan kabut datang, alam memberi tanda agar tim istirahat.

Hingga akhirnya mereka berteduh di sebuah kedai kopi.

Pikiran sudah tidak ada yang fokus. Angle berita gagal total. Langsung saja memberi kabar ke pihak redaksi jika tim masih mengusahakan untuk interview dengan Suyatmi.

Setelah hujan reda, tim kembali turun untuk mendapatkan pandangan warga tentang aksi sesuai arahan redaksi. Lalu, tim kembali melobby kepala desa agar bisa diinterview. Susah memang menyakinkannya, hingga akhirnya bersedia setelah dibuat ‘tersiksa’ dengan menunggu lama.

Baginya liputan kali ini adalah yang paling menegangkan dibandingkan dikatakan bodoh oleh narasumber. Di sisi lain, data yang diperlukan juga masih ngambang. Yang dia tahu hanyalah regulasi. Ketika di lapangan, realita sangatlah beda.

Tentunya, tidak semua BTS, dibahas di sini. Apalagi banyak kejanggalan yang belum bisa dibuka. Seolah-olah benang merahnya belum bisa diangkat dan tertutup dengan hal yang seharusnya tidak terjadi.

Lewat liputan ini, saya belajar bagaimana menjadi jurnalis yang bukan sekedar konfirmasi dan konfirmasi itu memang harus berani dan berjuang keras. Karena data adalah pembanding kata dari sebuah klarifikasi.

Ditulis pada 30 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s