Half Marathon Pertama: Bangga Sekaligus Kecewa

Ditulis pada 27 Desember 2017

Sebenarnya dia tidak berhasrat menceritakan kisah ini. Akan tetapi, dia melakukannya untuk menghormati dirinya sendiri. Bagaimanapun, ini adalah half marathon pertamanya. Meski saat menuliskannya, dia teringat kembali tetesan keringat kekecewaan dalam menyelesaikan race ini.

Di mulai dari garis start. Dia memadati arena dengan pelari 10K. Dia merasa tenang saja dengan keramaian karena jadwal start memang beda. Kenyataannya ekspektasinya salah. Dia harus berjubel dengan pasukan kaus merah. Dia tidak bisa menolak melangkahkan kaki saat peluru pistol mengudara.

Dia bahagia saat memasuki KM3. Akhirnya dia bisa memisahkan dari lautan manusia 10K. Dia bisa menikmati playlistnya dengan suasana pedesaan yang begitu hijau. Benar saja, kemanjaan ini membuat dia terlena dengan pacenya.

Semakin jauh dia berlari, dia semakin sadar jika 1KM sama dengan 1 Miles dalam race tersebut. Kecewa sebenarnya, jika dikalkusikan 13 Miles setara dengan HM. Bayangkan jika dia sudah menempuh 13 Miles, seharusnya dia sudah dekat dengan garis finish. Sayangnya tidak seperti itu.

Selain perbedaan hitungan antara jarah di Nike+ dan di lapangan, dia ternyata tidak begitu kuat menghadapi sinar matahari. Seakan-akan sengatan mentari langsung mengeringkan keringat yang menetes. Seandainya start dimulai 05.30, mungkin dia tidak terlalu silau dengan paparan matahari.

Hal yang mengejutkan lagi adalah  dia menjadi tontonan warga. Sungguh hal ini di luar dugaan. Akan tetapi dia sangat berterima kasih kepada nenek-nenek dan anak-anak yang berteriak sambil tepuk tangan untuk menyemangatinya. Meski dia akhirnya menyerah di tengah laga. Ya, dia akhirnya jalan kaki karena merasa ada yang tidak beres dengan kakinya.

Untuk mengurangi rasa letihnya, dia selalu minum di setiap water station. Satu gelas air putih dan satu gelas isotonik.  Dia sudah tidak lagi memikirkan pacenya lagi. Hanya maju mengikuti petunjuk ke gari finish. Dengan jalan kaki tentunya.

Ada yang aneh memang saat melakukannya. Jalan di tengah lari memang bukan kebiasaannya. Rasanya memang menyebalkan. Akan tetapi fisiknya memang tidak berdaya. Dia memutuskan berlari kembali di KM19. Dia mencoba untuk bangkit lagi meski kakinya kaku. Hingga akhirnya jebol dalam waktu tiga jam kurang empat menit. Kecewa memang.

Di balik kekecewaan ini ada pelajaran yang begitu berharga baginya. Latihan tidak bisa diremehkan. Melatih bagaimana menyakinkan fisik agar tetap kuat hingga finish. Itu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s