Menyeruput Kopi di Lereng Merapi

“Kok nggak suka kopi Bar? Temanggung kan kopinya enak tuh.”

Entah itu sebuah pertanyaan atau hinaan, telinganya sudah nggak peduli. Mau bagaimana lagi, dia adalah orang yang gampang trauma dengan makanan. Apalagi setelah dia kembung gara-gara secangkir moccachino. Nggak lagi-lagi minum kopi.

Akan tetapi, sore itu sebuah kedai kopi di lereng Merapi telah membuka matanya. Akhirnya dia mau menyeruput Arabika Susu. Padahal alasan yang sebenarnya adalah tidak ada hot chocolate dalam buku menu.

Perlu menunggu tiga puluh menit untuk menikmatinya. Kabut dan rintik hujan seolah-olah menekan emosinya agar tidak bosan untuk menunggu. Begitulah alam, selalu mempunyai cara sendiri untuk mengobati kekesalan manusia.

Kedainya memang benar-benar epik. Berada di lereng gunung dengan dominasi pasir dan pepohonan. Apalagi anginnya yang sejuk membuat air hujan langsung menempel ke pipi.

Aromanya memang menggoda. Rasanya begitu ringan. Komposisi susu dan kopinya seimbang. Dia langsung menyeruputnya. Benar-benar kopi yang bisa dinikmati oleh lidahnya sendiri.

Sebenarnya dia ingin cepat-cepat menghabiskannya. Apalagi suhunya yang begitu dingin. Tapi dia berlagak coffe lover yang pro. Menyeruput secara perlahan-lahan.

Apa harus begitu? Menyeruput kopi di ketinggian? Bukankah lebih enak minum secangkir teh dengan pemandangan kota London?

Ah, dia mulai berhalusinasi lagi.

Ditulis pada 30 Januari 2017
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s