Migrasi ke Tim Video

Dia menerima surat dari dirinya sendiri tertanggal 4 Januari 2017. Kurir datang lewat mimpinya yang sedang berlibur di negeri Paman Sam. New York sedang hujan kala itu.
Buat kamu,
Sinterklas tidak datang pada bulan Desember 2016. Dia sangat sibuk mengurus kado pernikahan di Singapura. Maklum, mereka adalah kaum pembisnis yang harus diutamakan. Jadi bersabar ya! Kadomu pasti akan terkirim tahun ini. Tunggu saja!

Si pemakai topi merah,
Sinterklas  

Surat itu membangunkan tidurnya yang tidak nyenyak. Belum sepenuhnya tersadar, dia langsung terpikir skrip dan ide video. Maklum dia baru saja pindah ke divisi video.

Keputusannya bermigrasi ke tim ini seperti makan es krim di musim hujan. Semoga Santa selalu melimpahkan cokelat Belgia yang agak pahit. Dia hanya ingin belajar bercerita lewat gambar. Sesederhana itu tujuannya. Lalu apa hubungannya dengan es krim di musim penghujan? Ya itulah dia yang terkadang memang susah dinalar saat ingin belajar hal baru.

Keputusan ini bukan untuk mengobati kekecewaannya karena belum bisa masuk ke industri televisi, bukan pula untuk menurunkan rasa irinya saat melihat reporter idolanya liputan di Instagram Stories, bukan pula ingin menjadi hits. Dia hanya ingin belajar, belajar bekerja sama menyampaikan sebuah cerita.

Remuk otaknya setelah tahu pekerjaan tim video, akan tetapi dia enggan mundur. Dia maju terus dengan keberaniannya untuk belajar. Hanya itu yang membuatnya terus melangkah.

Tidak ada kata mudah dalam proses produksi. Penggodokan ide dan hal teknisnya begitu asing. Beruntung dia mempunyai rekan kerjanya yang seperti mentor – membimbing dari hal kecil hingga yang paling penting.

Lensa kamera begitu kuat dalam memancarkan sebuah pesan,
Dia harus menghormati setiap kisah yang ingin disembunikan oleh narasumber,
Dia harus tahu durasi itu begitu penting,
Dia harus mengerti bahwa kerja tim itu tidak bisa ditawar,
Dia harus mengerti tidak semua proses itu masuk dalam frame semua,
Dia harus tahu kamera bisa memicu perdebatan,
Dia harus tahu video itu isinya cerita yang jadi bukan angan semata,
Dia harus tahu bagaimana belajar menerima yang baru.

Ditulis pada 6 Januari 2017
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s