Thanks Uber for The Ride to The Past

Ditulis pada 27 Desember 2106
Supir ojek mirip sahabat perjalanan di hidupnya. Enam tahun yang lalu, abang-abang inilah yang mengantarkan pulang ke rumah. Entah karena pulang kesorean ataupun minimnya transportasi. Saat kuliah, ritmenya masih sama. Hingga banyak supir di pangkalan yang hafal dengannya – laki-laki dengan ransel besar. Setelah luluspun tidak jauh berbeda. Puluhan abang ojek telah mengantarkannya ke gedung impiannya.

Biasanya, supir ojek mengantarnya ke rumah. Tujuan yang penuh makanan, dan tentunya kedamaian. Atau ke tempat tujuan yang dia inginkan, kemanapun. Malam itu, si supir bukan mengantarkannya ke sebuah tempat, melainkan ke masa lalu. Tepatnya sembilan tahun yang lalu, saat dia masih berseragam biru-putih. Bagaimana seorang supir gojek menjadi seorang time-driver baginya?

Cerita ini berawal saat dia keluar dari Loop Station Yogyakarta, berlokasi di daerah Titik 0KM. Malam itu, jalanan macet karena musim liburan. Dia mencoba order Go-Ride. Sayangnya, tidak ada driver yang merespons setelah order-cancel-order-cancel lebih dari tiga kali. Dia berpikir traffic order padat karena banyaknya orang di spot tersebut. Akhirnya dia berjalan menuju ke Halte TransJogja yang berlokasi di depan Taman Pintar.

“Tapi busnya lama Mas, nggak pasti datangnya kapan,” tutur petugas yang mengurungkan niatnya untuk membeli tiket.

Sambil mengelap keringat di kepalanya, dia order melalui Uber. Akhirnya dia merasa lega karena drivernya menjemputnya dalam waktu tiga menit. Setelah berjalan sekitar 300 meter, dia seolah merasa diantar ke zaman saat masih duduk di SMP.

“Masnya dari kota mana?” tanya si driver.

“Temanggung Pak,” jawabnya datar karena sudah terbiasa dengan pertanyaan template jenis ini.

“Temanggungnya mana Mas?” suaranya terdengar samar-samar.

“Saya Kranggan, Pak,” ucapnya tegas dan sudah mulai kesal karena menunggu lampu berganti hijau yang lama.

“Wah saya juga juga Kranggan Mas, rumahnya yang arah Purwosari itu,” timpalnya polos. Jawaban ini membuat dia kaget padahal si supir tidak mengerem mendadak. Alamat itu memang dekat dengan rumahnya di kampung halaman. Kebetulan banyak juga teman SMPnya yang berasal dari daerah itu.

Dalam perjalanan itu, kemacetan berganti dengan tumpukan memori saat masih duduk di bangku SMP. Dia mencoba mengecek nama temannya yang muncul di otaknya. Membayangkan wajah mereka yang kini tidak tahu bagaimana perubahannya.

“Yang Ernawati cantik itu? Wah dia sudah punya anak Mas,” jawab Pak supir.

Gedung sekolah, wajah Bu Hen (guru matematika favoritnya), lapangan upacara dan suasa kelas langsung mengepung pikirannya dalam perjalanan itu. Begitulah hiburan dari Tuhan, mengirimkan time-driver setelah dia lelah seharian.

“Lah Masnya tahu Sony?” sambung si supir memecah kediaman sesaat.

“Oh dia kakak kelas, Pak,” balasnya. Nama ini akrab karena dia adalah juru jomblang temannya dulu.

Hingga sampai di kosannya, dia seolah tidak percaya dengan yang baru saja dialami. Jarinya langsung memberikan bintang lima dengan ‘great conversation’.

Terima kasih Pak AB5570XX, sudah mengantarkan ke masa SMPnya. Semoga Jogja selalu memberikan kenyamanan meski Bapak sudah tinggal selama 16 tahun.

Thanks Uber for driving him to the past!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s