Berbuka Di Tengah Hutan

Berbuka dengan menu khas setempat adalah momen yang ditunggu saat melakukan perjalanan di bulan Ramadan. Hal ini bertepatan sekali dengan masa penugasannya di Konawe, Sulawesi Tenggara. 
Dia terbang dari Jakarta saat puasa hari kelima. Bahkan dia harus sahur di bus menuju terminal 2, Soekarno-Hatta. Setelah transit di Makassar selama enam jam, perjalanan dilanjutkan ke Kendari. 

Kesan pertama kali dengan Kendari adalah hening. Jalanan begitu lengang dengan pegunungan sebagai khasnya.

Tiba di kota ini, dia diajak untuk mencicipi Sinonggi (Papeda khas Sulawesi). Untuk mencicipi menu ini, tidak boleh dikunyah. Sayur dan sup ikanpun disajikan secara terpisah. 

Setelah tiba di Unaaha, perjalanan dilanjutkan menuju Lalomerui. Sayangnya jembatan putus dan harus menginap di rumah warga satu malam. 

Lidahnya agak kaget ketika harus mencicipi sayur bening dan sup ikan untuk buka dan sahur. Begitulah kebiasaan kuliner warga Konawe, semuanya direbus dan hanya ditambah garam. 

Yang lebih epik lagi adalah saat dia dan teman-temannya berbuka di tengah hutan hanya dengan biskuit, wafer, dan air putih. Kapan lagi coba buka puasa di hutan? Apalagi banyak kunang-kunang yang menyapanya. 

Tepat sekali, dia berbuka di tempat penyebrangan di hutan itu. Suara deru mesin kalah dengan sunyinya hutan. Akan tetapi suara tawa mereka pecah juga. 

“Tuhan terima kasih untuk momen ini, terima kasih dan terima kasih,” ucapnya dalam hati. 

Langit masih gelap, gerimis berkali-kali menyapu wajahnya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s