Truk Pengangkut Sawit

Berhenti di garasi truk perusahaan sawit di Lalomerui seolah mengingatkan adegan film era 1950-an di Amerika Serikat. Yang membuat makin otentik adalah bunyi mesin dan aksen bicara pekerjanya. Baginya, melihat kenyataan yang mirip adegan film adalah hal yang fantastis. Saat melihatnya, prasangkanya seolah berhenti berbisik. 
Di proses ini, dia sering menerka-nerka apa yang ada di pikiran para pekerja saat melakukan tugasnya. Apakah managernya? Atau impian anaknya? Atau pacar yang dirindukan mungkin.

Akan tetapi yang lebih penting adalah apa yang membuatnya terus bekerja? Percaya bahwa yang dilakukan itu tidak sia-sia? 

Jika dia boleh dihubungkan, banyak orang bekerja demi kebutuhan mereka setiap harinya. 

“Beli rokoknya entar saja kalau sudah gajian, sekalian turun (ke kota),” tutur supir beranak dua. 

“Kalau mudik mah nunggu THR, baru sama istri pulang,” kata pria asal Ternate itu.

Jika seandainya, tidak ada kebutuhan, apakah mereka tetap ingin melakukannya setiap hari? Menyusuri jalan lumpur dengan medan mirip roller coaster? 

Saat menulis ini, dia juga mengembalikan kepada dirinya sendiri. Belum sempat menjawab, Pak Supir memanggilnya untuk masuk truk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s