Category: ACADEMIC

Gagal Puasa di Hungaria

Ekspektasinya adalah dia bisa menjalankan ibadah puasa di tanah impiannya, Eropa tahun ini. Tepatnya adalah Kozseg, Hungaria. Akan tetapi, kenyataan tidak seperti yang dia harapkan.

Surat penolakan dari Summer University itulah yang menjadi buktinya yang tidak bisa dia akali untuk mengubah nasibnya. Dia tidak bisa mengikuti summer school tentang European Studies. Kembali lagi dia frustrasi.

Dia masih ingat bagaimana dia harus mengetik cepat untuk menuliskan essay dan motivation letters.

Bahkan saking semangatnya, dia rela memandangi data-data yang bikin otaknya menari lunglai. Ya, dia hanya mencoba apa yang bisa dia lakukan.

Harapan untuk menghabiskan dua minggu di bulan Juni di Hungaria itu harus dihapus dari daftar halusinasinya. Bahkan, angan-angan musim panas di negara itu harus segera ditenggelamkan.

Terus, dia mau puasa di mana untuk tahun ini? Apakah harus di tanah kelahirannya (lagi)?

 

Bayangan Turki

Pemandangan tentang Turki pertama kali dilihatnya di televisi. Seorang reporter menceritakan ciri khas negara ini dengan latar belakang kota Istanbul. Kemudian kamera itu juga memperlihatkan lebih detail tentang Blue Mosque. Sementara, dia juga melihat beberapa burung merpati yang mengalihkan perhatiannya terhadap wajah sang reporter.

Sebenarnya di kelas, Turki juga diulas dalam pelajaran IPS. Akan tetapi, dia bosan dengan informasi standar anak SD yang harus dihafalnya. Bayangkan saja, dia harus mengingat tentang nama ibukota Turki, letak geografis, jenis pemerintahan, dan komoditas pertanian. Bisa saja hal ini bikin gila dan riuh dalam otaknya. Parahnya lagi, untuk membuktikan performa otaknya, dia harus maju ke depan kelas. Semua temannya menjadi saksi apakah dia layak meyandang pelupa atau seorang jenius.

Bayangan Turki tetap ada hingga dewasa. Memang dia punya keinginan untuk tinggal di negara ini. Alasannya logisnya adalah Turki merupakan bagian Asia yang sangat dekat dengan Eropa. Apapun tentang Eropa selalu menjadi hal yang menarik baginya. Meskipun dia lebih memilih produk Amerika dan Jepang dalam peralatan eletronik.

Entah kenapa ketika dia membaca Fikih Jurnalistik, Turki muncul dalam bayangannya. Meski buku ini tidak menyebutkan nama negara ini. Hal yang membuat dia ingat adalah terkait agama dan peraturan negara. Dalam buku tersebut dibahas bagaimana jurnalistik dalam segi Islam. Memang lebih mengerucut pada peraturan syariahnya. Akan tetapi semakin kabur hingga akhir halaman.

Menurutnya, Turki memang berhasil mengeluarkan peraturan syariah untuk mengatur masyarakatnya. Meskipun begitu, nuansa Islam masih terasa meski tidak kental. Sedangkan dalam buku ini lebih ditekankan bagaimana seharunya jurnaslitik itu dilakukan dengan menaati peraturan Islam.

Menurutnya ini agak aneh, apalagi konteksnya di Indonesia. Seakan-akan, sang penulis promosi bahwa jurnalistik harus dilakukan secara islami. Dalam buku tersebut juga dituliskan beberapa sumber dari kitab suci dan sumber lainnya.

Anehnya, dalam buku tersebut seperti buku fikih yang biasanya saja. Tidak terlalu spesifik. Kejanggalan lainnya adalah perbedaan sudut pandang sebagai reporter dalam hal memberitakan. Dalam buku ini lebih fokus bagaimana reporter menentukan sebuah kebenaran dari fakta atau berita sebelum disiarkan.

Lantas apa hubungannya dengang semua ini? Dia tidak terlalu suka dengan hukum agama yang harus menjadi landasan dalam mengelola negara. Hal ini memang membuat dilema dengan kepercayaannya sendiri. Akan tetapi, Indonesia tidak tumbuh seperti negara Arab yang akarnya memang Islam. Itulah kenapa dia menyukai Turki. Atau mungkin hanya pemahamannnya Gusdur saja yang masuk akal baginya.