Category: Bumi Merica

Perjalanan menjadi Pengajar Muda di Konawe, Sulawesi Tenggara

Lunchy With Privilege 

Selama dua bulan di penempatan, dia belum juga menelan roti tawar. Bahkan bau pinggiriannya saja sudah lupa. Tapi ditanggal 14 Agustus 2017, semua itu terbayar. 
Kala itu, matahari sedang panas-panasnya. Sialnya lagi, dia terlambat ikut makan siang dengan panitia. Alhasil, dia coba mencari snack di warung. 

Pilihannya jatuh ke satu kaleng susu beruang dan dua buah roti kecil. Inilah makan siang yang sudah lama tidak menjamah lidahnya. Perut sepertinya menginginkan makanan ini sejak lama. 

Gigitan pertama begitu nikmat. Tekstur gandumnya juga tidak alot meksi roti murahan. Apalagi saat dia menegak susu kaleng itu. Rasanya seperti makan siang mewah. 
Terima kasih Tuhan! 

Sang Penjaga

Tuhan banyak mengirimkan orang yang tidak dia kenal untuk menjaganya. 
Saat SD, seorang supir angkot rela mengantarnya lomba. Bahkan abangnya tidak menarik tarif darinya. Kala SMP, ada guru yang menjadi mentor pribadinya. 

Saat magang kerja, pernah juga diantarkan orang karena ketinggalan bus. Saat awal kuliahpun, ada orang yang menawarkan tempat karena salah janjian dengan ibu kos. 

Dari semua itu, yang paling mengharukan adalah ketika dia baru menginjakkan kaki di Tanah Anoa. 

Ceritanya, pagi itu dia bepergian ke Unaaha. Karena jalur, dia harus berputar ke Konawe Utara atau menyebrang via Parudongka. Dia mantap mengambil opsi pertama yang diambil. 

Dari rumah, dia diantar Pak Sekretaris Desa untuk menumpang truk sawit. Dia merasa lega. Sayangnya, truk harus ditarik jonder karena kondisi medan akibat hujan. Alhasil, dia belum beruntung mendapatkan bus tujuan Kendari.  

Hingga waktu buka puasa, dia belum mendapatkan juga. Dia menunggu di sebuah warung sambil menulis di draft emailnya. Tidak ada mobil juga. 

“Tunggu saja. Nanti kalau tidak dapat bermalam di sini,” ucap Ibu Agustina, pemilik warung. 

Dia berharap jangan sampai bermalam. Nyatanya harapannya berlubang juga. 

Beruntunglah anaknya Ibu Agustina, Naufal (semoga tidak salah ketik) mengajaknya ngobrol menemani buka puasa. Hingga akhirnya dia bermalam di rumahnya. 

Saat salat Magrib, dia merasa ada yang meletup selesai salam. Dia merasa bersyukur banyak sosok seperti Ibu Agustina, yang rela menampung orang asing semacam dia. 

Begitulah Tuhan, Dia melemparkannya di daratan di muka bumi ini beserta penjaganya. Iya memang karena Dia adalah penjaga yang sesungguhnya. 

Kembali Introvert 

Saat ada perubahan, terkadang dia merasa ada yang salah. Atau setidaknya, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Lebih pelik lagi, kini dia di tempat baru dengan misi yang belum pernah dia temui. 
Saat datang di lokasi penugasannya, dia membiarkan saja ‘otak analisisnya’ untuk istirahat. Bahkan saat ada fenomena yang baru dia rasakan pertama kalinya, dia seolah-olah sudah biasa. Tidak perlu lagi dibahas. 

Bukannya tidak ingin memberikan solusi, akan tetapi dia belum menjadi bagian dari komunitasnya. Jangan-jangan yang diusulkan belum tentu mereka butuhkan. Bisa jadi menyalahi values yang ada. 

Lama-lama, proses ‘pembiaran’ ini bikin tidak nyaman. Terlebih lagi saat kedua telinganya sering panas. Meski indra ini peka, instingnya yang dulu kuat seakan pudar di medan yang baru ini. 

Balik seperti kebiasaan lamanya, dia akhirnya memetakan apa yang harus dilakukan. Langsung saja dia uji cobakan. Akan tetapi dia langsung kembali ke proses awal karena kondisi sample yang ditemui. 

Apakah harus kembali introvert? Setelah nyaman menjadi seorang ekstrovert? 

Berbuka Di Tengah Hutan

Berbuka dengan menu khas setempat adalah momen yang ditunggu saat melakukan perjalanan di bulan Ramadan. Hal ini bertepatan sekali dengan masa penugasannya di Konawe, Sulawesi Tenggara. 
Dia terbang dari Jakarta saat puasa hari kelima. Bahkan dia harus sahur di bus menuju terminal 2, Soekarno-Hatta. Setelah transit di Makassar selama enam jam, perjalanan dilanjutkan ke Kendari. 

Kesan pertama kali dengan Kendari adalah hening. Jalanan begitu lengang dengan pegunungan sebagai khasnya.

Tiba di kota ini, dia diajak untuk mencicipi Sinonggi (Papeda khas Sulawesi). Untuk mencicipi menu ini, tidak boleh dikunyah. Sayur dan sup ikanpun disajikan secara terpisah. 

Setelah tiba di Unaaha, perjalanan dilanjutkan menuju Lalomerui. Sayangnya jembatan putus dan harus menginap di rumah warga satu malam. 

Lidahnya agak kaget ketika harus mencicipi sayur bening dan sup ikan untuk buka dan sahur. Begitulah kebiasaan kuliner warga Konawe, semuanya direbus dan hanya ditambah garam. 

Yang lebih epik lagi adalah saat dia dan teman-temannya berbuka di tengah hutan hanya dengan biskuit, wafer, dan air putih. Kapan lagi coba buka puasa di hutan? Apalagi banyak kunang-kunang yang menyapanya. 

Tepat sekali, dia berbuka di tempat penyebrangan di hutan itu. Suara deru mesin kalah dengan sunyinya hutan. Akan tetapi suara tawa mereka pecah juga. 

“Tuhan terima kasih untuk momen ini, terima kasih dan terima kasih,” ucapnya dalam hati. 

Langit masih gelap, gerimis berkali-kali menyapu wajahnya. 

Truk Pengangkut Sawit

Berhenti di garasi truk perusahaan sawit di Lalomerui seolah mengingatkan adegan film era 1950-an di Amerika Serikat. Yang membuat makin otentik adalah bunyi mesin dan aksen bicara pekerjanya. Baginya, melihat kenyataan yang mirip adegan film adalah hal yang fantastis. Saat melihatnya, prasangkanya seolah berhenti berbisik. 
Di proses ini, dia sering menerka-nerka apa yang ada di pikiran para pekerja saat melakukan tugasnya. Apakah managernya? Atau impian anaknya? Atau pacar yang dirindukan mungkin.

Akan tetapi yang lebih penting adalah apa yang membuatnya terus bekerja? Percaya bahwa yang dilakukan itu tidak sia-sia? 

Jika dia boleh dihubungkan, banyak orang bekerja demi kebutuhan mereka setiap harinya. 

“Beli rokoknya entar saja kalau sudah gajian, sekalian turun (ke kota),” tutur supir beranak dua. 

“Kalau mudik mah nunggu THR, baru sama istri pulang,” kata pria asal Ternate itu.

Jika seandainya, tidak ada kebutuhan, apakah mereka tetap ingin melakukannya setiap hari? Menyusuri jalan lumpur dengan medan mirip roller coaster? 

Saat menulis ini, dia juga mengembalikan kepada dirinya sendiri. Belum sempat menjawab, Pak Supir memanggilnya untuk masuk truk.

Mandi Di Sungai

Udara masih dingin. Listrik sudah padam. Sunyi kembali mengaliri suasana hatinya. Tetapi aliran sungai berwarna cokelat mengusik keberaniannya. 
“Yakin mau mandi di sini?” hatinya bergumam. 

Saat dia mau menjawab, seorang anak tiba-tiba muncul di belakangnya. 

“Ini mandinya bagaimana?” Sontak tanyanya. 

“Ke tengah Pak Guru, masuk saja,” balas bocah kurus itu. 

Dia masih ragu karena arusnya yang terlihat deras. 

Setelah menjerumuskan kakinya ke dasar sungai yang berlumpur, akhirnya ritual mandi dimulai. 

Bukan masalah dinginnya air, melainkan aliran sungainya. Terlebih lagi, ini adalah pengalaman mandi pertama kali di sungai. 

Mau tak mau dia harus beradaptasi dengan kamar mandi buatan itu. Mencucipun harus di tempat yang sama. 

Di tengah-tengah kondisi ini, entah mengapa dia merasa bangga dengan dirinya. “Ya, akhirnya bisa mandi di sungai!” 

Perjalanan Ke Tanah Anoa

Takdir Tuhan memang susah untuk diterka. Setelah gagal berpuasa di Hungaria, kini dia diterbangkan ke Konawe, Sulawesi Tenggara. Tempat inilah yang akan menjadi ‘ruang kelas’ selama satu tahun sebagai Pengajar Muda. 
Untuk menuju Unaaha, ibukota kabupaten Konawe, jalur darat harus ditempuh kurang lebih dua jam dari Kendari. Suasana jalan begitu sepi meski menjelang buka puasa. Suara genangan air yang dipecah roda mobil menjadi lebih menderu. Padahal mobil sudah dibungkam dengan playlist lagu dengan beat tinggi. 
Selama perjalanan, dia hanya menikmati langit yang mendung serta rintik hujan. Rupanya hujan sedang jatuh cinta dengan Tanah Anoa ini. Akan tetapi, Tuhan mempercantik pemandangan ini dengan pegunungan yang dibalut dengan kabut. 

Di balik rintik hujan, dia berharap ada gerombolan Anoa yang menyapa di tengah jalan raya. Nyatanya tidak ada seekorpun. Bahkan setelah dia beberapa kali tertidur di mobil. 
Sepi adalah satu kata yang pas untuk menggambarkan Unaaha. Dia menyimpulkannya setelah membedakan aktivitas siang dan malam hari. Akan tetapi, tempat nongkrong bernuansa modern bisa dengan mudah ditemui. Bahkan sudah ada barbershop dengan konsep kece ala-ala anak kekinian. Hanya saja, tidak banyak orang berlalu lalang. 

Perjalanan berganti dengan tema off road saat menuju Routa, kecamatan paling terjauh dari Unaaha serta lokasi penugasannya. Setelah menyisiri jalan tengah hutan dengan medan yang berlumpur, akhirnya bertemu dengan jalan mulus nan sepi. Ngebut adalah hal biasa saat melintasi Jalan Poros Sulawesi ini. Mobil sempat berhenti sekitar 30 menit karena terlalu panas. 

Sayangnya, perjalanan harus ditengahi dengan menginap di salah satu warga Wiwirano, Konawe Utara karena jembatan terkena longsor. Tidak bisa diprediksi kapan jembatan selesai ‘dievakuasi’. Yang bisa dilakukan hanya menunggu dan menunggu (sambil tidur tentunya). 
Saat warga lokal bercerita, Routa sebenarnya lebih dekat dengan Konawe Utara. Hal ini dibuktikan dengan jalur jalannya yang harus melewati Konawe Utara sebelum ke Routa. Akan tetapi, karena alasan suatu hal, Routa tetap berada di bawah Konawe (induk pemekaran). Isunya, Routa bisa bergabung ke Konawe Utara jika warganya bersatu dan mengajukan ke pemerintah Kendari. 

Setelah proses menunggu, akhirnya butuh dua jam untuk tiba di lokasi penempatannya, Lalomerui, Routa. Hujan masih setia menyambutnya. Semangkuk sup ikan sudah siap menghangatkan tubuhnya.