Category: CINEMATIC

Review: Beauty and The Beast

Baginya, yang dicari saat menonton film Disney adalah moral cerita. Nasehat yang begitu ringan tapi mengena. Apalagi disampaikan secara langsung layaknya cerita nusantara. Terkadang hal seperti ini dibutuhkan oleh orang dewasa sepertinya. Ditambah lagi, banyak seni yang harus diterjemahkan dengan banyak asumsi dan persepsi.

Lalu apa istimewanya Beauty and The Beast yang sebenarnya adaptasi dari versi kartunnya? Baginya sendiri adalah soal Emma Watson. Dia pikir banyak hal tentang feminisme yang akan diperlihatkan lewat film ini. Nyatanya tidak. Lalu apa yang dia dapat?

mv5bmtuwnjuxmtm4nv5bml5banbnxkftztgwodexmdqzmti-_v1_sy1000_cr006741000_al_

Bagian istimewa saat melihat film ini adalah soal karakter dari pemainnya. Dia seolah-olah melihat dirinya sendiri. Intinya, menonton film ini bagaikan refklesi di gedung bioskop. Sikap arogan Beast dan kutu buku Belle yang kemudian dianggap aneh oleh societynya itu adalah ceriman dirinya. Apalagi soal rasa gengsi dan emosinya si Beast, juara banget menyentil hatinya.

Pelajarannya adalah, tinggal pilih berubah atau tidak. Ini memang terkesan personal untuk membahas moral ceritanya. Akan tetapi, memang bagian inilah yang mengena perasaannya.

Bonusnya, menyaksikan film ini seperti menikmati konser. Bagian singingnya terlalu berlebihan. Mungkin, film ini berakar dari Perancis. Wajar saja bagian nyanyinya mirip dengan Les Miserables. Dari make up juga kesan Parisnya kentara. Sayangnya, beberapa karakter aksen Perancisnya tidak begitu menggema. Untuk plotnya sendiri sebenarnya bisa ditebak sejak dari awal.

Selesai nonton film ini, dia juga mempertanyakan bagian mana yang promoting LGBT? Apakah beberapa scene dari LeFou dengan Gaston? Atau kemunculan LeFou itu sendiri? Dia sendiri sebenarnya juga kebingungan. Maklum dia sempat bertanya-tanya hal ini karena Malaysia mensensor dengan mengurangi durasi hingga 4,5 menit. Ya, mungkin dia terlalu fokus dengan Emma Watson yang secara akting masih mirip Hermione.

Lion: Film India Yang Hampir Nggak ada Tariannya

Tidak ada niatan untuk nonton film yang satu ini. Sabtu malam itu, dia hanya dinner bersama temannya. Saat tengah meneguk mojito kiwinya, temannya bilang Lion tayang pada midnight show. Tanpa basa-basi, mereka meluncur ke gedung bioskop.

Dia hanya bisa diam melihat film berbau Bollywood yang satu ini. Dia mencoba menghafal nama crew yang berbau India. Tetap saja dia tidak bisa menghafalnya. Sebenarnya, dia mencari cela agar rasa kenyangnya hilang.

Di bagian awal, film ini mengingatkan tentang Slumdog Millionaire dengan potret kemiskinan India yang mirip dengan Indonesia.

Yang patut diapresiasi di film ini adalah sang sutrada mampu meracik bagaimana scene dalam kereta menjadi tidak membosankan. Tahu sendiri kan, menonton gerbong lewat itu sama bosannya duduk berjam-jam di kereta Argolawu.

Di sisi lain, menonton film ini sebenarnya menguras emosi. Ditambah lagi, film ini berdasarkan kisah nyata. Banyak adegan yang menyentil hatinya. Akan tetapi dia selamat karena tidak ada satupun air mata yang jatuh.

Susah memang mendiskripsikan film Lion ini. Entah kenapa produk hiburan yang satu ini begitu membius. Apalagi aktingnya Saroo kecil yang dimainkan oleh non-profesional aktor. Kebayang dong, gimana kondisi dapur syuting kala itu?

Belum lagi, potret kehidupan anak adopsi yang jarang dirasakan oleh banyak orang. Sungguh ini juga menguras perasaan.

Secara sinematografi, film ini sebenarnya standar saja. Akan tetapi, banyak dialog yang begitu menyentuh hingga menjadikan hanyut. Meski drama, banyak lelucon yang begitu natural, yang membuat film ini seolah-olah memang menceritakan keadaan aslinya.

Yang paling penting, di film ini sang pemain utama hampir menari, akan tetapi untung tidak lama. Tidak seperti film Bollywood biasanya.

La La Land: Teater dalam Sebuah Film

Mengapa film yang memborong penghargaan bergengsi sering telat mendarat di bioskop Indonesia? Pertanyaan bernada kecewa itu masih belum terjawab hinggai kini. Bahkan Ryan Gosling dan Emma Stone turut menjadi korban. Dia bukanlah fans dari kedua bintang tersebut. Akan tetapi, ini menyangkut La La Land.

Setelah dibuat menunggu, akhirnya dia bisa menikmati garapan Damien Chazelle. Tidak ada ekspektasi saat memasuki ruangan bioskop. Menontonnya sebelum Oscar digelar saja sudah beruntung.

Dari awal, film ini memang tidak beres. Opening dengan sebuah nyanyian bukanlah hal yang wajar. Akan tetapi kostum warna-warni membuatnya tetap antusias untuk melihat akhir dari film ini. Kemudian kejutan itu dia rasakan setelah wajah Ryan Gosling keluar di mobilnya.

Seolah-olah, dia pindah dari kursi bioskop ke gedung teater VVIP. Begitulah kesan pertama film ini. Sepertinya Damien tidak ingin kehilangan warna Hollywood dalam film ini. Wajar, dunia hiburan Amerika memang menjadi fokus dari storinya.

Secara jenius, Damien membungkus cerita secara memukau. Lightingnya memang juara. Itulah sebabnya, menonton film ini semacam kembali ke gedung teater. Seakan-akan, penonton juga diajak melihat proses BTS untuk sebuah adegan.

Komposisi warna dari kostum membuatnya tidak ingin kehilangan satu adeganpun. Unsur ini semacam sebuah art yang tidak biasa.

Apalagi lirik lagu yang dinyanyikan oleh Ryan dan Emma yang bisa menyatu dengan dialognya. Belum lagi musiknya yang secara pas mengisi setiap detail kekosongan adegan.

Tarian juga ditambahkan untuk melengkapi lirik lagu. Hampir semua unsur Hollywood masuk dalam film ini.

Gabungan lagu, tarian serta sinematograi membuat dia lupa dengan plot. Wajar, saja dia merasa ditipu oleh ending yang tidak terduga.

Semuanya memang perfect, kecuali gaya menarinya Ryan Gosling.

Ditulis pada 30 Januari 2017

The Passengers

Menikmati film besutan Morten Tyldum ini seolah mengingatkan akan bisnis tur luar angkasa yang sering ‘dipromosikan’ oleh media. Saat bumi tidak bisa diharapkan lagi – entah karena rasa frustrasi individu atau kerusakan alam- planet lain adalah harapan yang ditinggikan karena kemajuan teknologi. Akan tetapi sebuah inovasi selalu bersahabat dengan ketidaksempurnaan bukan? Inilah sisi menarik yang ditonjolkan dalam The Passengers.

Konflik berawal saat kapal super canggih, Avalon, berlubang. Kerusakan ini membuat seorang penumpang sekaligus mekanik terbangun. Seharusnya, Jim Preston bangun empat bulan sebelum mendarat di Homestead II dengan waktu tempuh 120 tahun. Karena kerusakan tersebut, dia terbangun 90 tahun lebih awal. Bagaimana dia menjalani kehidupannya seorang diri yang mengharuskan bertahan dalam durasi hampir satu abad?

Picture

‘Membangunkan’ seorang mekanik dalam film ini sepertinya bukan sebuah kebetulan. Seolah-olah, sosok Jim in mewakili sifat kebanyakan manusia tentang bagaimana bosannya menghadapi kehidupan di bumi.“Saya seorang mekanik, kalau ada yang rusak, biasanya diganti dengan mesin baru. Dan itulah mengapa saya tertarik menjadi penumpang dalam petualangan ini – memulai kehidupan yang baru-. Bukan bongkar pasang lagi,” begitulah kira-kira motivasi Jim mau tidur di kapal tersebut dengan tiket diskonan yang berujung petaka bagi dirinya.

Bukankah kebanyakan manusia selalu tertarik dengan slogan ‘hidup yang baru’? Dari awal peradaban manusia, panji ini begitu mujarab untuk menghalau manusia dari kampung halamannya sendiri. Ya, buktinya 5.000 penumpang rela masuk Avalon dan harus tidur 120 tahun.

Seperti pahlawan dalam kisahnya, Jim mencoba mempelajari semua sistem kapal sesuai instingnya sebagai mekanik. Sayangnya, semua awak kapal juga tertidur. Rasa frustrasinya sedikit terobati dengan kehadiran bartender, Arthur, robot Android yang tidak berperasaan.Karena kesendirannya itulah, dia mencoba membangunkan seoang penulis bernama Aurora. Lewat plot ini, sang sutradara mencoba menunjukkan bagaimana manusia tetap butuh orang lain meski teknologi begitu canggih.

Selain itu, alur ini juga menggambarkan manusia memang alergi dengan kebosanan dan kesepian. Dengan segala percobaannya, akhirnya dia berhasil. Hingga akhirnya keduanya menemukan kehidupan baru di perjalanan mereka. Bumbu-bumbu cinta menjadi pemanis sesaaat dalam film ini.

Emosi penonton dibangkitkan lagi dengan ucapan Arthur soal percoabaan Jim membangunkan Aurora. Karena merasa dikhianati oleh Jim –dibangunkan lebih awal-, Aurora marah besar.Kejanggalan di film ini ditandai dengan kemunculan seorang pegawai geladak kapal yang juga terbangun akibat kerusakan kapal. Hal ini juga didukung sistem gravitasi kapal yang sering menghilang, elevator yang rusak dan vending machine makanan yang juga rusak.

Untuk mengakhiri konflik dalam film ini, mereka bertiga disatukan dengan misi untuk memperbaiki kapal agar bisa mengantar ke tempat tujuan. Sayangnya, staf tersebut tidak bisa bertahan. Kemudian, aksi heroik kedua yang tidak terlihat scientific bisa mengatasi segalanya. Meski ada pilihan bisa tidur kembali, Aurora tidak bisa melakukannya karena cintanya kepada Jim. Hingga akhirnya meninggal di Avalon tersebut.

Ada pesan yang begitu satir di akhir film tersebut yang khusus ditujukan kepada orang-orang yang merasa ‘berada di tempat yang salah’ atau ‘sedang berproses migrasi ke tempat impiannya’. Terkadang, menemukan apa yang ada di tempat yang dihadapi sekarang adalah cara terbaik untuk menikmatinya. Tentu saja pesan  ini revelen ketika kerusakan bumi ditemukan dimana-mana.

Ditulis pada 25 Desember 2016