Category: FOODIE

Menyeruput Kopi di Lereng Merapi

“Kok nggak suka kopi Bar? Temanggung kan kopinya enak tuh.”

Entah itu sebuah pertanyaan atau hinaan, telinganya sudah nggak peduli. Mau bagaimana lagi, dia adalah orang yang gampang trauma dengan makanan. Apalagi setelah dia kembung gara-gara secangkir moccachino. Nggak lagi-lagi minum kopi.

Akan tetapi, sore itu sebuah kedai kopi di lereng Merapi telah membuka matanya. Akhirnya dia mau menyeruput Arabika Susu. Padahal alasan yang sebenarnya adalah tidak ada hot chocolate dalam buku menu.

Perlu menunggu tiga puluh menit untuk menikmatinya. Kabut dan rintik hujan seolah-olah menekan emosinya agar tidak bosan untuk menunggu. Begitulah alam, selalu mempunyai cara sendiri untuk mengobati kekesalan manusia.

Kedainya memang benar-benar epik. Berada di lereng gunung dengan dominasi pasir dan pepohonan. Apalagi anginnya yang sejuk membuat air hujan langsung menempel ke pipi.

Aromanya memang menggoda. Rasanya begitu ringan. Komposisi susu dan kopinya seimbang. Dia langsung menyeruputnya. Benar-benar kopi yang bisa dinikmati oleh lidahnya sendiri.

Sebenarnya dia ingin cepat-cepat menghabiskannya. Apalagi suhunya yang begitu dingin. Tapi dia berlagak coffe lover yang pro. Menyeruput secara perlahan-lahan.

Apa harus begitu? Menyeruput kopi di ketinggian? Bukankah lebih enak minum secangkir teh dengan pemandangan kota London?

Ah, dia mulai berhalusinasi lagi.

Ditulis pada 30 Januari 2017

Richeese Factory Surakarta

Semua ini berkat kehebohan di lini media sosialnya. Dia yang awalnya pecinta matcha green tea, akhirnya harus melebur ke pasukan keju. Begitulah gaungnya pembukaan gerai baru Richeese Factory di Surakarta. Maklum, dia agak heran kenapa tidak memilih Yogyakarta untuk cabang barunya.

Setelah beberapa bulan, akhirnya dia datang untuk mencicipinya. Dia pesan Combo Fire Wings dan Combo 2 Chicken. Sayang sekali untuk Cheesy Wedgesnya kosong. Setelah antre cukup lama dan sempat mengusir dengan paksa beberapa pengunjung karena mejanya penuh, dia bisa menyantapnya.

Entah efek magic kekinian atau sudah lelah antre, setelah foto kedua menu, dia langsung kenyang. Tapi ya harus tetap dimakan karena ‘mengidamnya’ sudah lama banget.

Yang menyita perhatian lidahnya adalah Frutarian Tea. Beverage jenis ini lebih segar dibandingkan Pink Lava. Karena dia bukan pecinta coke, minuman ini lebih akrab di tenggorokannya.

Semua menu yang dia temui serba chicken. Untuk Fire Wings memang lebih recommended dibandingkan Combo 2 Chicken. Sayangnya, level pedasnya (level 3) tidak membuat lidahnya mengatakan enak. Terkesan biasa saja jika tidak ditambah saus kejunya. Untuk Combo 2 Chickennya sungguh disayangkan. Tapi hal ini tidak bisa dibedakan dengan Fire Chicken karena dia tidak memesannya.

Jika bukan karena saus andalannya, menu chikennya terkesan ‘failed’. Tekstur krispi di bagian ayam bisa dimaklumi. Akan tetapi bagian daging dalamnya aneh rasanya. Lagi-lagi, Combo 2 Chicken tidak bisa selaras seperti Fire Wings dengan saus keju. Kekecewaan itu begitu tinggi karena memang ekspektasinya yang juga sepadan.

Bagi pecinta ayam, silakan menikmati menu chicke ala Richeese biar bisa membandingkan.

Kenapa dulu nggak kepikiran pas ke Jakarta?

Ditulis pada 9 Januari 2017

Semangkuk untuk Kekasih Lidahnya

Saat stres menghampirinya, dia mencoba menikmatinya dengan semangkuk bakso. Jika belum lega, dia pasti akan memesan lagi. Itulah ritualnya. Bakso adalah hal yang paling dia cintainya demi perut dan lidah. Otak juga sebenarnya.

Semenjak kecil, bakso bagaikan permen yang bisa membuat hidupnya lebih manis. Ayahnya selalu memberikannya saat pulang dari bepergian. Dia pernah dibangunkan di tengah tidur nyenyaknya demi bakso dengan kuahpanas. Ya, itulah awal kisah cintanya dengan bakso.

Hingga kini, dia masih berhubungan baik dengan bola-bola daging tersebut. Bahkan dia seperti kecanduan. Seringkali dia rela menunggu berjam-jam menunggu gerobak bakso demi kekasih lidahnya itu. Kalau tidak dapat, ya merebus mie instan rasa bakso.

Dari ratusan bola di dunia ini mengapa harus bakso?

Tidak semua bakso menjadi favoritnya. Yang berhasil mengambil hati serta lidahnya adalah bakso uleg. Tidak ada mienya dalam menu ini. Biasanya diganti dengan ketupat. Karena dia tidak bisa makan olahan nasi ini, dia selalu memberi catatan khusus saat memesannya. Hanya ada tahu, bakso serta cabe hijau uleg yang segar disiram dalam mangkuknya.

Rasa pedasnya yang begitu alami membuat otaknya segar kembali. Lebih baiknya adalah lidahnya tidak kelu lagi untuk mengutarakan kebahagiaan hatinya. Itulah bakos uleg baginya, obat saat dia merasa bosan atau tertekan.

Meski dia sempat jatuh cinta dengan bakso khas Malang, bakso uleg tetap tidak bisa jauh dari kata hatinya. Apalagi bakso bakarnya yang begitu gurih ditaburi bawang goreng. Meski begitu, sambal hijau mentah tidak bisa mengalahkannya.

Sayangnya, dia belum bisa membuat resep sekelas bakso uleg favoritnya. Dia terkadang mencobanya dengan resep sakadarnya, tapi hasilnya ya seadanya saja. Impas bukan?
Bakso adalah bagian hidupnya. Dia pernah sakit karena micin dalam kuahnya. Dia pernah merasakan hambarnya cita rasa meski harus dihabiskan. Akan tetapi, dia lebih banyak menemukan kebahagian dalam semangkuk bakso. Mau berapa mangkuk kebahagiaan memang?

Ditulis pada 27 Desember 2106