Category: JOURNALS

Psychic Staring Effect

Pernah nggak merasa banyak orang yang ngeliatin saat berada di keramaian? Bukannya extra percaya diri, tapi dia sering mengalami hal ini. Bahkan dia merasa nggak nyaman di sebuah tempat karena perasaan itu. Fenomena ini disebut psychic staring effect.

Dia mencoba menulusuri mengapa dia sampai menjadi korban psikologi yang satu ini. Dia sadar, memang dia tidak sering berbaur dengan orang banyak. Belum lagi, temannya memang sedikit. Parahnya lagi, dia memang jarang bisa enjoy dengan keramaian.

Kendengarannya memang sepele sih. Tapi ternyata bisa membuatnya sangat tidak nyaman. Dia pernah lupa letak elevator gara-gara ini. Seringkali dia tidak jadi membeli barang gara-gara merasa banyak orang yang memperhatikannya.

Apalagi saat berjalan di citywalk yang bikin kaki enggan melangkah. Cara terbaik mengatasinya adalah earphone. Kemudian berlagak dunia hanya miliknya sendiri. Apakah itu bisa bekerja? Trik ini bukanlah garansi. Dia tetap merasa ada bayang-bayang yang mengawasinya.

Untuk Asesor Indonesia Mengajar

Ditulis pada 30 Januari 2017
Tulisan ini muncul karena ada pertanyaan yang nendang gendang telinganya saat menjalanasi seleski Direct Assessment Indonesia Mengajar.

“Apa yang sebenarnya kamu cari di Indonesia Mengajar,” tutur asesor berkacamata itu.

Pertanyaan itu begitu mencekik lehernya. Dia menjawab dengan sejujur-jujurnya entah kedengarannya begitu klise. Itulah kata hatinya. Titik.

“Apa yang membuat kamu gagal hingga tiga kali?”

Sedih sebenarnya mendengar ucapan tersebut. Tapi itulah kenyataan yang tidak bisa dihapus lagi.

Dia bertemu dengan asesor berkerudung itu tiga kali. Ya, dia ingat betul bagaimana gayanya yang khas saat mengedipkan matanya sambil membenahi kacamata.

Setidaknya dia ingin berterima kasih dengan asesor yang satu ini. Lewat pertanyaannya, seolah dia selalu ditanya soal perkembangan dirinya.

“Apakah selama ini kamu sering merefleksikan diri?” tanyanya.

Sepertinya sang asesor bisa menebak apa yang menjadi kegundahan dirinya. Memang, untuk berdampingan dengan banyak kegagalan harus banyak refleski.

Dibandingkan dengan dua interview terdahulu, interview sore itu begitu singkat. Mungkin, sudah habis apa yang ingin ditanyakan. Mungkin, memang belum ada perkembangan dari dirinya sendiri.

Terima kasih atas ucapannya “semoga ini yang terakhir kemudian kamu lolos jadi PM”.

Terima kasih Ibu Asesor Berkerudung Pink, semoga bisa duduk bersama dan membincangkan soal self-development.

Thanks Uber for The Ride to The Past

Ditulis pada 27 Desember 2106
Supir ojek mirip sahabat perjalanan di hidupnya. Enam tahun yang lalu, abang-abang inilah yang mengantarkan pulang ke rumah. Entah karena pulang kesorean ataupun minimnya transportasi. Saat kuliah, ritmenya masih sama. Hingga banyak supir di pangkalan yang hafal dengannya – laki-laki dengan ransel besar. Setelah luluspun tidak jauh berbeda. Puluhan abang ojek telah mengantarkannya ke gedung impiannya.

Biasanya, supir ojek mengantarnya ke rumah. Tujuan yang penuh makanan, dan tentunya kedamaian. Atau ke tempat tujuan yang dia inginkan, kemanapun. Malam itu, si supir bukan mengantarkannya ke sebuah tempat, melainkan ke masa lalu. Tepatnya sembilan tahun yang lalu, saat dia masih berseragam biru-putih. Bagaimana seorang supir gojek menjadi seorang time-driver baginya?

Cerita ini berawal saat dia keluar dari Loop Station Yogyakarta, berlokasi di daerah Titik 0KM. Malam itu, jalanan macet karena musim liburan. Dia mencoba order Go-Ride. Sayangnya, tidak ada driver yang merespons setelah order-cancel-order-cancel lebih dari tiga kali. Dia berpikir traffic order padat karena banyaknya orang di spot tersebut. Akhirnya dia berjalan menuju ke Halte TransJogja yang berlokasi di depan Taman Pintar.

“Tapi busnya lama Mas, nggak pasti datangnya kapan,” tutur petugas yang mengurungkan niatnya untuk membeli tiket.

Sambil mengelap keringat di kepalanya, dia order melalui Uber. Akhirnya dia merasa lega karena drivernya menjemputnya dalam waktu tiga menit. Setelah berjalan sekitar 300 meter, dia seolah merasa diantar ke zaman saat masih duduk di SMP.

“Masnya dari kota mana?” tanya si driver.

“Temanggung Pak,” jawabnya datar karena sudah terbiasa dengan pertanyaan template jenis ini.

“Temanggungnya mana Mas?” suaranya terdengar samar-samar.

“Saya Kranggan, Pak,” ucapnya tegas dan sudah mulai kesal karena menunggu lampu berganti hijau yang lama.

“Wah saya juga juga Kranggan Mas, rumahnya yang arah Purwosari itu,” timpalnya polos. Jawaban ini membuat dia kaget padahal si supir tidak mengerem mendadak. Alamat itu memang dekat dengan rumahnya di kampung halaman. Kebetulan banyak juga teman SMPnya yang berasal dari daerah itu.

Dalam perjalanan itu, kemacetan berganti dengan tumpukan memori saat masih duduk di bangku SMP. Dia mencoba mengecek nama temannya yang muncul di otaknya. Membayangkan wajah mereka yang kini tidak tahu bagaimana perubahannya.

“Yang Ernawati cantik itu? Wah dia sudah punya anak Mas,” jawab Pak supir.

Gedung sekolah, wajah Bu Hen (guru matematika favoritnya), lapangan upacara dan suasa kelas langsung mengepung pikirannya dalam perjalanan itu. Begitulah hiburan dari Tuhan, mengirimkan time-driver setelah dia lelah seharian.

“Lah Masnya tahu Sony?” sambung si supir memecah kediaman sesaat.

“Oh dia kakak kelas, Pak,” balasnya. Nama ini akrab karena dia adalah juru jomblang temannya dulu.

Hingga sampai di kosannya, dia seolah tidak percaya dengan yang baru saja dialami. Jarinya langsung memberikan bintang lima dengan ‘great conversation’.

Terima kasih Pak AB5570XX, sudah mengantarkan ke masa SMPnya. Semoga Jogja selalu memberikan kenyamanan meski Bapak sudah tinggal selama 16 tahun.

Thanks Uber for driving him to the past!

Untuk kamu yang merasa normal dan baik-baik saja

Untuk kamu yang tidak pernah dibully,

Untuk kamu yang tidak pernah dianggap sensitif,

Untuk kamu yang tidak pernah merasa ‘berbeda’ dengan yang lain,

Untuk kamu yang tidak pernah asing dengan label dari masyarakat,

Sebaiknya kamu tidak perlu melanjutkan tulisan ini.  Alasannya adalah tulisan ini merupakan tentang dirinya yang bisa saja pesannya akan salah jika kamu belum pernah merasakan keempat hal di atas.

Untuk memahami konteks ini, dia bertahun-tahun merasakan kerasnya bully dari tetangganya karena kondisi ekonomi keluarganya. Bahkan cacat fisiknya yang berasal dari lahirpun selalu menjadi panggung bagi mereka yang suka mencela.

Dia memang pura-pura lupa bahwa itu namanya pem-bully-an. Beruntung, anak kelahiran Shio Ayam itu bisa tenggelam dengan buku, radio, dan televisi. Lewat media itu, dia seakan-akan mempunyai dunia sendiri. Akhirnya, dia tidak merasakan lagi menjadi korban. Kedengarannya memang seperti itu.

Akan tetapi jalan  itu ternyata menunjukkan hal yang berbeda, apalagi gaya komunikasinya.  Ketika bertemu dengan orang baru, dia seperti anak kecil yang harus banyak belajar. Bahkan cenderung salah dan tidak ada progres sekuat apapun dia mencoba. Menyakitkan bukan?

Dia selalu kebingungan mengapa orang-orang tiba-tiba marah dengan dia. Bahkan, dia selalu menjadi public enemy di manapun berada. Itulah mengapa dia tidak bisa berteman dengan orang banyak. Dia takut, takut membuat hidup orang lain semakin ribet sebenarnya.

Kini dia tahu, dia memang mempunyai gaya komunikasi yang berbeda. Sebagai gambarannya, orang benci dengannya karena tatapan matanya. Orang benci karena gaya bicaranya yang terlalu to the point. Orang benci karena dia selalu berargumen lebih dari yang lain. Orang sering mengira hal ini untuk mematahkan lawannya. Mungkin hanya dia saja yang bisa memahami dirinya.  Kemudian apa arti komunikasi jika hanya dia yang paham? Hasilnya adalah kesalahan dalam menerima pesan.

Pengalaman itulah yang membuat dia seakan-akan bukan bagian dari manusia lagi. Seolah-olah, dia memang salah sejak lahir. Salah dalam memahami orang lain. Salah karena tidak sesuai dengan aturan orang pada umumnya (orang normal). Bahkan pemikirannyapun  salah.

Kemudian mereka menunjukkan cara mereka sendiri untuk mengoreksi kesalahannya. Hal inilah yang membuatnya semakin terluka.

Proses koreksi itu juga membuatnya bertanya, “lalu, kalau gaya komunikasinya, pemikirannya, dan persepsinya tidak sama dengan mereka, dia tidak berhak bergabung ?”

Kenyataannya boleh, tapi tetap saja dia dicap salah.

Tulisan ini memang kesannya subjektif, setuju? Jika tidak dengan nada subjektif, lalu siapa lagi yang akan menyuarakannya?

Dia biarkan mereka melabeli dirinya sebagai ‘orang aneh, ‘terlalu sensitif, ‘nggak bisa nyantai’, ‘suka emosi’, ‘gampang putus asa’, ‘bukan anak normal’, ‘alay’, ‘implusif’, dan masih banyak lagi.

Dia tidak ingin mengatakan bahwa mereka harus merasakan apa yang dialaminya untuk memahaminya. Pada dasarnya, jika mereka open minded sedikit saja, pasti bakal tahu.

Terus mereka akan protes, “Open minded? Dia saja yang nggak mau!”

Ya, dia tetap salah lagi. Atau dia memang benar-benar patut dibenci? 

Sambutan awan Jakarta

“Kok panasnya biasa saja,” ungkapnya dalam hati saat menuju pintu exit Pasar Senen.

23 Oktober 2015 merupakan kali pertamanya dia ke Jakarta (setelah berumur 15 tahun), sendirian pula. Tujuannya adalah untuk menghadiri meeting sebuah campaign. Dia mulai mengamati jalanan Jakarta saat kereta melewati daerah Jakarta Timur.

Setelah turun dari kereta, dia menikmati segitiga Jakarta dengan abang Go-Jek. Beruntung dia melewati jalanan itu sebelum rush hour.  Dia tidak merasakan kemacetan yang cukup parah, hanya padat saja. Akan tetapi yang menjadi perhatiannya adalah suhu atau seberapa panasnya Jakarta.

Dia tidak merasakan panas yang menyengat. Memang badannya berkeringat karena tas yang dia gendong. Tetapi, dia benar-benar tidak tersengat dengan matahari Jakarta.

Sambutan awan Jakarta terkuat saat dia mendengarkan Lantai Delapan. “Awan Jakarta hari ini memang beda, Hardrockers,” tutur salah satu penyiar. Ternyata perasaannya memang benar. Kondisi awan yang tidak terlalu pana disebabkan karena cuaca yang tidak menentu saat ini. Itulah penjelasan yang dia dapatkan dari penyiar Drive & Jive yang mengutip keterangan dari BMKG.

Setelah mendengarkan radio, dia langsung mandi dan siap-siap untuk meeting.

Suara, Radio, dan Emosi

Perjalanan Joga-Jakarta-Bandung-Jogja telah mewujudkan salah satu impiannya. Setidaknya dia bisa mendengarkan langsung 87.7 FM HardRockFM Jakarta tanpa streaming. Memang beda nuansanya saat dia mendengarkan melalui radio dibandingkan saat melalui aplikasinya. Dia hanya merasa dekat dengan suara-suara yang terdengar lewat earphonenya. Seakan-akan hanya dia saja yang … Continue reading Suara, Radio, dan Emosi