Category: PROFESIONALE

Kado Ulang Tahun Itu Bernama Resign

Baginya, 2017 adalah tahun yang mengejutkan. Ini bukan soal bagaimana membuat keputusan. Melainkan, deretan kenyataan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah dia harus menuliskan surat pengunduran diri dari pekerjaan pertamanya.

Otaknya memang beku. Ditambah lagi hatinya ngilu ketika jemarinya menuliskan surat itu. Bahkan, dia tidak kuat setelah menuliskan dua paragraf di draftnya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menghapus seluruh isinya.

Tidak mau membebankan hatinya, dia iseng-iseng untuk mencari di Google. Lumayan kan, tinggal copy-paste. Sayangnya, perasaannya terlalu dominan. Dihapus dan dihapus lagi. Akhirnya dia menyerah dan langsung menutup laptopnya.

Setelah rehat dua hari, dia kembali memulai dari awal. Merencanakan baik-baik apa yang seharusnya disampaikan untuk CEOnya. Butuh sekitar empat jam untuk menyusunnya. Hingga akhirnya dia simpan di folder komputer.

Dia mengakui, menulis surat pengunduran diri ternyata lebih sulit dibandingkan membuat cover letter untuk apply pekerjaan. Apalagi, ini adalah pekerjaan yang memang menjadi keinginannya sejak kecil.

_DSC1074

Resign adalah hadiah Tuhan di bulan kelahirannya (secara de jure bukan de facto). Meski menerima dengan hati tak tentu, rasa syukurnya bisa mengurung keraguannya.

Sejak tanggal itu, dia hanya bisa pasrah dan siap menerima tentang apa-apa yang ada di depan. Jalannya memang berbeda, tapi bukankah rutenya menawarkan keindahan yang luar biasa?

Buntu di Lereng Merapi

Bermigrasi ke tim video, dia menemukan ombak  baru. Dia dan timnya mendapatkan tugas untuk coverage Kepala Desa Umbulharjo, wanita yang berani menyita kunci backhoe penambang liar di lereng Merapi.

Agak takut sebenarnya menerima tugas yang satu ini. Instingnya sudah memberikan isyarat ada yang tidak beres. Ini bukan tinggi  gunung yang harus ditaklukan, melainkan oknum penambangnya sendiri.

Fokus utama adalah menggali sosok Suyatmi, sang kepala desa. Akan tetapi, negosiasi berlangsung alot. Narasuber selalu mencari cara agar bisa bersembunyi dari sorotan kaera. Crew akhirnya harus menunggu karena tidak ada pilihan lain.

Sembari menunggu narasuber, tim akhirnya meluncur ke lokasi pertambangan. Di sinilah area uji nyali diulai. Setelah parkir di rumah salah satu penambang, tim akhirnya terjun untuk mengambil gambar.

Belum ada sepuluh menit, salah satu crew teriak bahwa tim harus mundur. Ternyata ada seseorang yang membutunti timnya (ibu yang rumahnya dijadikan tempat untuk parkir). Dia sangat panik, sambil lari dia mencoba untuk memberi tahu teman yang lainnya.

Timnya memang berada di atas lokasi pertambangan. Kalau tertangkap bisa bisa berujung petaka. Setelah tersengal-sengal, tim akhirnya bisa keluar meski footage tidak ada yang bagus. Gerimis dan kabut datang, alam memberi tanda agar tim istirahat.

Hingga akhirnya mereka berteduh di sebuah kedai kopi.

Pikiran sudah tidak ada yang fokus. Angle berita gagal total. Langsung saja memberi kabar ke pihak redaksi jika tim masih mengusahakan untuk interview dengan Suyatmi.

Setelah hujan reda, tim kembali turun untuk mendapatkan pandangan warga tentang aksi sesuai arahan redaksi. Lalu, tim kembali melobby kepala desa agar bisa diinterview. Susah memang menyakinkannya, hingga akhirnya bersedia setelah dibuat ‘tersiksa’ dengan menunggu lama.

Baginya liputan kali ini adalah yang paling menegangkan dibandingkan dikatakan bodoh oleh narasumber. Di sisi lain, data yang diperlukan juga masih ngambang. Yang dia tahu hanyalah regulasi. Ketika di lapangan, realita sangatlah beda.

Tentunya, tidak semua BTS, dibahas di sini. Apalagi banyak kejanggalan yang belum bisa dibuka. Seolah-olah benang merahnya belum bisa diangkat dan tertutup dengan hal yang seharusnya tidak terjadi.

Lewat liputan ini, saya belajar bagaimana menjadi jurnalis yang bukan sekedar konfirmasi dan konfirmasi itu memang harus berani dan berjuang keras. Karena data adalah pembanding kata dari sebuah klarifikasi.

Ditulis pada 30 Januari 2017

Migrasi ke Tim Video

Dia menerima surat dari dirinya sendiri tertanggal 4 Januari 2017. Kurir datang lewat mimpinya yang sedang berlibur di negeri Paman Sam. New York sedang hujan kala itu.
Buat kamu,
Sinterklas tidak datang pada bulan Desember 2016. Dia sangat sibuk mengurus kado pernikahan di Singapura. Maklum, mereka adalah kaum pembisnis yang harus diutamakan. Jadi bersabar ya! Kadomu pasti akan terkirim tahun ini. Tunggu saja!

Si pemakai topi merah,
Sinterklas  

Surat itu membangunkan tidurnya yang tidak nyenyak. Belum sepenuhnya tersadar, dia langsung terpikir skrip dan ide video. Maklum dia baru saja pindah ke divisi video.

Keputusannya bermigrasi ke tim ini seperti makan es krim di musim hujan. Semoga Santa selalu melimpahkan cokelat Belgia yang agak pahit. Dia hanya ingin belajar bercerita lewat gambar. Sesederhana itu tujuannya. Lalu apa hubungannya dengan es krim di musim penghujan? Ya itulah dia yang terkadang memang susah dinalar saat ingin belajar hal baru.

Keputusan ini bukan untuk mengobati kekecewaannya karena belum bisa masuk ke industri televisi, bukan pula untuk menurunkan rasa irinya saat melihat reporter idolanya liputan di Instagram Stories, bukan pula ingin menjadi hits. Dia hanya ingin belajar, belajar bekerja sama menyampaikan sebuah cerita.

Remuk otaknya setelah tahu pekerjaan tim video, akan tetapi dia enggan mundur. Dia maju terus dengan keberaniannya untuk belajar. Hanya itu yang membuatnya terus melangkah.

Tidak ada kata mudah dalam proses produksi. Penggodokan ide dan hal teknisnya begitu asing. Beruntung dia mempunyai rekan kerjanya yang seperti mentor – membimbing dari hal kecil hingga yang paling penting.

Lensa kamera begitu kuat dalam memancarkan sebuah pesan,
Dia harus menghormati setiap kisah yang ingin disembunikan oleh narasumber,
Dia harus tahu durasi itu begitu penting,
Dia harus mengerti bahwa kerja tim itu tidak bisa ditawar,
Dia harus mengerti tidak semua proses itu masuk dalam frame semua,
Dia harus tahu kamera bisa memicu perdebatan,
Dia harus tahu video itu isinya cerita yang jadi bukan angan semata,
Dia harus tahu bagaimana belajar menerima yang baru.

Ditulis pada 6 Januari 2017

Teka-teki Muka & Gesture yang Bikin Ketawa Sekaligus Mikir

Lewat tulisan ini, seolah dia ingin menertawakan dirinya. Bukannya separuh isi kehidupan itu adalah tawa? Mungkin dia akan mengambil sebagian haknya. Lalu, dia mengizinkannya untuk melakukannya. Tentu, sambil berpikir apa yang membuatnya tertawa di balik pengalamannya.

Cerita ini berawal saat dia ‘dilempar’ ke Singapura oleh kantornya untuk urusan pekerjaan. Maklum, perjalanan ini merupakan kali pertama dia ke luar negeri, jadi ada kesan norakknya. Namanya juga naik pesawat ke luar negeri, wajar kan kalau pramugarinya menyapanya menggunakan Bahasa Inggris?

Memang nggak penting sih, apakah dia dilayani menggunakan Bahasa Indonesia atau English. Yang penting kan tetap sesuai SOP, bener nggak?

Tapi ada yang janggal dengan dirinya. Dia hampir selalu dikasih layanan dengan Bahasa Inggris. Sementara penumpang depan atau sebelahnya menggunakan Bahasa Indonesia. Aneh nggak sih? Padahal sama-sama WNI (Warga Negara Indonesia).  

Perbedaan cara melayani ini membuat otaknya penasaran. Bukan merasa kecewa sih, tapi kok hal ini bisa terjadi. Dan kenapa harus dia?

“Pak, mau koran sorenya?”,  tanya pramugari berbaju oranye kepada penumpang sebelahnya. Wanita cantik nan anggun itu kemudian menghampirinya.

“Evening paper, Sir?” lontarnya kepadanya saat pesawat mau take off dari Changi. Nah kan? Tanpa babibu, dia langsung mengambil Kompas dengan senyuman.

Nggak cuma koran doang, perkara makanan dan snack juga sama. Dia ditawari menggunakan English sedangkan penumpang depannya dengan Bahasa Indonesia. Kalau sekali sih dia nggak curiga, tapi dia hampir mengalaminya dari penerbangan bolak-balik Jogja-Changi. Maklum dia menggunakan pesawat yang sama mulai dari berangkat hingga kembali ke rumah.

Kedengarannya memang stupid cerita ini, tapi lama-lama dia terpikir untuk menemukan alasannya.

“Apa  mukaku seperti bule (read: bule Asia non Indonesia),” batinnya.

Hanya itu saja dugaannya mengenai pengalaman yang mungkin bagi sebagian orang lain nggak penting.

“Ya udahlah ya, namanya juga idup,” keluhnya.

Akan tetapi pengalaman ini seakan belum selesai. Setelah dua minggu pulang dari Singapura, dia dan temannya berkunjung ke mal untuk nonton Kakek Tom Hanks dalam film barunya Inferno.

Malnya aneh banget, tenantnya sedikit serta sepi. Foodcourt belum ada, hanya dipenuhi baliho bertulisan ‘coming soon’. Yang lumayan ramai ya cuma bioskopnya di lantai paling atas.

Nggak sabar nonton, dia menuju lift untuk terbang ke lantai tiga dari basement paling bawah. Bodohnya lagi, dia nggak baca warning bahwa lift hanya bisa digunakan untuk dan dari B2, B1, dan LG. Artinya untuk naik lantai 1,2, dan 3 harus menggunakan tangga berjalan.

Menyelinap ke kotak elektronik itu, dia pencet tombol angka ‘3’.

“Kok nggak berubah warnanya,” batinnya. Parahnya lagi temennya udah di pojok dan fokus dengan smartphonenya. Hanya ada empat orang di lift kala itu, dia, temannya, dan pasangan cowok-cewek.

“I can’t, is it error?” keluhnya berkali-kali saat lift mulai bergerak ke atas.

Seperti ada petir yang muncul dari kegelapan. Tiba-tiba cowok stranger itu ngasih penjelasan ke dia.

“It is locked,” tuturnya sambil mengarahkan jarinya ke papan warning yang dia nggak ngeh kalau itu penting.

Belum selesai penjelesannya, pintu lift terbuka dan dia terpaksa keluar. Bahkan dia lupa mengucapkan terima kasih ke cowok tadi.

Dia baru sadar kok tadi mas-masnya pakai Bahasa Inggris menjelaskannya. Nah kan? Ini mirip dengan kejadian di pesawat itu. Dua pengalaman ini bikin bingung sekaligus membuatnya tertawa.

“Apa ada yang salah dengan  mukaku dan gestureku,” katanya dalam hati.

 

Kak Senior, Maafkanlah Juniormu!

Banyak orang kemudian disalahkan karena perubahan yang sedang diusung. Jegal-menjegal selalu menjadi risiko yang kentara dalam urusan perubahan baik soal birokrasi atau motif politik. Setidaknya fenomena itu yang dia amati lewat media yang tidak henti-hentinya memproduksi informasi.

Apa salahnya membuat perubahan dalam sebuah kelompok?

Akan tetapi, kini, dia sendiri yang menghadapinya. Setidaknya, dialah yang akan menjawab pertanyaan itu lewat pengalaman menyelamnya di akuarium kecil yang bernama perusahaan.

Susah memang baginya untuk duduk manis dan menghormati (selalu melakukan) apa kata bosnya. Apalagi budaya ‘susah diatur’ yang sudah mengakar sejak kecil. Wajar, stempel ‘perusak tatanan’ sudah menjadi brandnya saat masih aktif di organisasi kampus.

Balik ke arenanya, sebuah perusahaan yang menjadi tumpuan perutnya saat ini. Di posisi ini, dia benar-benar anak baru. Bahkan dia juga tidak mempunyai background knowledge untuk pekerjaannya. Di tahun-tahun awal, dia berhasil survive, tetapi lambat laut dia merasa bingung dengan apa yang harus diperjuangkan untuk perusahaannya. Dia mencoba menepiskan bahwa hal ini bukan disebabkan karena seringnya ditolak perusahaan impiannya.

Semisal saja, dia mengusulkan untuk menciptakan image/brand serta segmentasi dan style sendiri bagai perusahaannya. Akan tetapi sang atasan malah mencerca dengan data yang tidak ada hubungannya. Dia berpikir, bahwa apakah perusahaan bakal bergerak jika ada pesaing yang begitu melejit? Setidaknya hal itu yang ada di gambarannya selama ini. Jika tidak ada hubungannya dengan pesaing, pasti soal cost yang terlalu tinggi. Dua itu saja bukan yang lain.

Apakah perubahan hanya berlaku benar di saat-saat tertentu? Misalnya saat perusahaan tidak bisa menutup cost untuk projectnya? Atau situasi krisis yang benar-benar membuat perusahaan linglung secara finansial? Jika premis itu benar, kemudian tidak ada jiwa dalam perusahaan itu setiap harinya. Semuanya santai saja.

Meski benar, dia tidak setuju dengan konsep itu. Dia menginginkan perubahan setiap harinya. Mulai dari cara meeting, brainstorming, strategy branding, dan lainnya. Tapi ini bukan perusahaannya, atau bukan ladang investasinya. Big problem? Yes!

Bahkan penggunaan software baru saja sudah menjadi perkara besar. Itulah yang dia hadapi dengan para seniornya. Saat dia menggagas ide baru, semuanya berjuang mati-matian untuk menolaknya. Bahkan alasan yang tidak berbasis data juga dilontarkannya. Aneh bukan?

Terus bagaimana makna pekerjaan jika bukan dari perubahan? Salahnya dia memang bekerja untuk mencari makna bukan uang atau jabatan. Tapi kenyataannya, duduk di kantor tanpa makna hanya membuatnya gelisah dengan kehidupannya. Mungkin ini terdengar tidak profesional memang.

Untuk para seniornya, dengarkanlah beberapa hal berikut ini:

  • Perubahan yang dia maksud adalah bagaimana perusahaan benar-benar dilengkapi dengan jiwa oleh orang-orang di dalamnya. Artinya setiap jiwa tidak akan selalu diam, pasti ada values yang dia usung.
  • Kemudian, apalah arti data yang sering dipaparkan jika sifatnya berlapis-lapis? Artinya perbedaan level karyawan berimbas ke data yang diakses.
  • Lalu, impact apa yang dilakukan oleh organisasi ini? Jawablah dengan tegas karena bisnis bukan soal uang saja.
  • Yang terakhir, maafkanlah dia yang sering membuat ‘kerusuhan’ dengan perubahan-perubahan kecilnya.

Jadi, apakah perubahan itu salah? Bisa jadi salah apalagi jika ide itu diusulkan oleh ikan kecil seperti dirinya.